Mudik

mudik asyik
mudik yuk!

Ada yang belum ngeh akan arti kata pada judul di atas? Mudik? Pasti kita semua sudah begitu paham akan arti dan ‘pergerakan’ yang satu ini kan, ya? Aksi yang dengan sukses menghasilkan situasi jalanan yang menjadi macet, pergerakan roda kendaraan jadi padat merayap, dan peluh pengendara serta penumpang kendaraan pun mengalir bercucuran tiada terkira. Yes, begitu deh situasi mudik yang biasa kita dengar, alami atau hanya saksikan, baik melalui media televisi, melihat langsung atau hanya mendengar via radio.

Lalu, mudik  menurut kamu sendiri gimana, Al? Nah itu! Aku sendiri termasuk orang yang belum pernah mengalami yang namanya mudik. Dulu banget, saat masih tinggal di Medan, bertahun-tahun, suasana konflik di Aceh tidak mengijinkan kami sekeluarga untuk melakukan pergerakan ini. Karena bersuamikan seorang Jawa, maka kehadiran kami di Banda Aceh masa-masa itu, sungguh berbahaya. Banyak orang dari etnis yang satu ini mendapat perlakuan mengerikan tidak menguntungkan, sehingga akan lebih baik jika kami menghindari mudik. 

Jadinya, bertahun-tahun tinggal di kota Medan, aku, Intan dan Ayahnya kala itu, jadi ga pernah mudik deh. 🙂

Lalu, tsunami melanda, dan Allah pun me-mudik-kan puteri Aceh ini ke tanah kelahiran, untuk berbaur bersama para relawan, membantu masyarakat tanah leluhur yang menjadi korban tsunami. Jadilah aku beralih profesi, menjadi seorang pekerja kemanusiaan dan tenggelam happily di dalam sektor pekerjaan yang satu ini. Mudik dalam arti yang sebenarnya, yaitu pulang kampung dan bersatu kembali dengan orang tua tercinta, walau tidak tinggal serumah. Happy banget! Namun tetap iri setiap teman-teman sejawat pada mudik ke kampung halaman mereka di kala lebaran. Aih, sedihnya yang ga bisa pulkam!  Gimana mau mudik coba, wong tinggalnya di kampung halaman!

Hingga, bertahun kemudian, kira-kira dua tahun lalu, saat project-project tsunami completed alias selesai dilaksanakan, maka pekerjaan lain memanggilku untuk mandah ke tanah Jawa, lalu ke Bandung hingga kini. Dan harusnya asyik donk, bisa ngerasain mudik. 😀 Ternyata oh ternyata, justru sikon berkata lain. Tahun kemarin, malah sama sekali ga bisa mudik, karena justru berlebaran di negara orang [baca Istanbul, Turkey].  Dan harapanku, tahun ini, lebaran kali ini, ingin ngerasain mudik ah! Ealah, malah sikon juga ga kompak dengan keinginanku dan Intan. Harga tiket yang gila-gilaan [sekitar Rp. 6 juta untuk 2 orang, PP], bener-bener bikin keder dweh. Aku dan Intan pun akhirnya mikir, mending mengalihkan dana itu untuk tambahan biaya masuk Intan ke President University, Agustus nanti deh. Dan, kesempatan untuk mudik pun, biarlah berlalu dalam damai… Biarlah lebaran dan sungkeman keluarga besar kami nanti, dilakuin via hangout-nya GPlus ajah! Pasti sensasinya juga akan bikin happy. Nah, begitu deh cerita tentang mudik versiku, kalo Mantemans, apakah akan mudik tahun ini?

sekedar coretan acak,

Al, Bandung, 21 Juli 2014

10 thoughts on “Mudik

  1. Insya Allah besok2 masih bisa mudik ya Kak, walau gak lebaran. Harga tiket suka semena2 menjelang lebaran 🙂

    Waah ini blog baru ya? Saya baru kali ini nih ke sini …

  2. Saya dari kecil selalu mudik ke Jawa. *bahasanya orang Jakarta kalo pergi ke Jateng or Jatim bilangnya ‘ke Jawa’* 😛 Abis itu di-sinis-in sama orang Jawa, “emang Jakarta bukan di Jawa??”. hahaha. 😀
    Sekarang, insyaAllah bulan depan saya dan keluarga mudik antar negara. hehe. Jepang-Jakarta-Jogja. Doakan lancar ya Mak. 🙂
    Wah, Intan udah mau masuk university ya. Semoga lancar ya.

  3. Mak… ternyata sekarang punya WP juga ya? Wah keren nih.. makin eksis aja ngeblognya. Aku malah makin jarang nulis gara2 kesibukan kantor jadi kambing hitam hahaha…

    Jadi, tahun ini ga mudik lagi ya mbak? Wah, bakalan di Bandung aja ya. BTW ortu belum jadi pindah ke Bandung Mbak?

    1. Hehe, iya, Mak Reni. Pengen kenal dengan Worpress juga biar sayangku ga cuma untuk Blogspot. 🙂
      Hayyah, kesibukan kantor selalu jadi kambing hitam ya? Masih mending deh drpd jadi kambing congek. *eh 😀

      Ho oh, Mba, ga mudik tahun ini. Lebaran di Bandung dweh. Belum jadi pindah ke Bandung, Mba, mereka masih di Aceh.

  4. Hiks…sama dong mak..tahun ini ga bisa mudik pastinya karena harga tiket yg aduhai… mass ongkos mudik ke Aceh bertiga kaya harga 1 motor baru..hiks …. pediihh 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *