HTS

Screen Shot 2014-08-05 at 01.00.49
sumber dari sini

Pernah mendengar istilah itu? HTS, Hubungan Tanpa Status. Apa? Sering? Lho, saya kok malah baru kali ini mendengarnya? Berarti saya donk yang kudet alias kurang apdet. Hihi. Well, sungguh, saya baru saja dikagetkan oleh sebuah kejadian. Sebenarnya bukan sebuah berita besar sih, hanya saja, bagi saya, ini adalah berita baru yang cukup membuat saya shock. Ceritanya gimana, Al?

Jadi critanya begini, Mantemans!

Tadi sore, ada seorang teman baru [laki-laki] di facebook, yang nge-inbox saya. Berterima kasih karena telah saya terima permintaan pertemanannya. Lalu berkenalan lebih lanjut, dengan tata cara yang sopan dan menyenangkan. Seneng donk, dapat teman baru yang sopan dan menyenangkan, juga terkesan smart dan ramah. 🙂

Merasa cocok dan bisa dipercaya, apalagi background yang sama baik dalam bidang pendidikan mau pun jenis pekerjaan, saya pun dengan penuh kepercayaan memberikan nomor hape. Siapa tau hubungan pertemanan ini akan memberi dampak positif dalam artian membuka link bagi kemudahan rezeki dan pekerjaan kan? Well well well well! Doi pun menelefon, yang tentu saya sambut dengan baik, sopan dan ramah. Seperti biasalah kalo menerima telefon dari teman. Percakapan pun berkembang, lugas, santai, nyaman, hingga kemudian, si teman, yang usianya beberapa tahun lebih muda dari saya, mulai bercerita tentang dirinya. Yang sebenarnya punya pengalaman tak terlupakan dalam hal cinta.

Doi, pernah jatuh hati pada seorang wanita baik hati dan keibuan, yang usianya jauh di atas usianya. Keduanya saling cinta, namun sayang, pihak keluarga si teman [laki-laki ini] tidak setuju dengan hubungan tersebut, karena rentang usia keduanya lebih dari sepuluh tahun! Masuk akal sih? Hehe

Akhirnya, si teman ini pun menyerah oleh desakan pihak keluarganya. Mereka pun memutuskan hubungan, dan si teman mencoba pacaran dengan wanita lain, yang lebih muda usianya. Namun, hati tak bisa dibohongi. Doi teteup saja merasa tidak nyaman pacaran dengan orang yang lebih muda, teteup aja kangen akan kasih sayang wanita yang usianya di atas usia doi. Sampai di sini nih, Mantemans, saya udah ga enak hati. Hadeuh, ini maksudnya apa? Mau kemana nih tujuan percakapannya? Tapi saya ga boleh GR kan? Tetap deh mendengarkan curhatannya, yang mengalir dengan lembut dan bersuara empuk. Hm…

Hingga, ternyata yang saya duga itu bener, sodara-sodara! Saya ternyata tidak sedang GR, melainkan feeling saya lagi lagi adalah JITU! Hehe. Doi bilang bahwa doi sedang mencari wanita yang available untuk HTS? Saya pun pada awalnya terbengong, karena ga pernah dengar kata HTS. Haha. Dengan polos saya tanya apa itu HTS? Dan dia dengan sabar menjelaskannya. Bahwa HTS itu adalah Hubungan Tanpa Status. Artinya? Artinya adalah bahwa ini adalah sebuah hubungan yang tidak mengikat, tapi saling menyukai, saling menyintai, hampir-hampir kayak TTM [Teman Tapi Mesra] gitu deh! Halah! Dan dia meminta saya untuk jadi HTS nya? Sementara dia berterus terang bahwa dia sudah punya pacar, dan tidak akan memutuskan pacarnya itu jika punya HTS. Ampyuuun, dunia macam apa ini? Kemana saja kamu selama ini, Al? Kok bisa terbengong dan tersinggung oleh pernyataan dan permintaan seperti itu? 

Ampyuuun, sebenarnya ini, saya yang kampungan dan kudet, apa dunia yang begitu cepat berotasi dan berevolusi? Honestly, saya seperti ditohok dan terhina oleh ‘tembakannya?’. Begitu terlihat murahan kah saya sehingga dia berani ‘menembak’ saya untuk jadi HTSnya? Untungnya saya sudah jauh lebih bijak dalam menyikapi persoalan. Dengan santun tapi nyelekit, saya berterima kasih atas pinangannya, namun saya tanyakan padanya, apakah saya terlihat begitu murahannya, sehingga dia berani mengajak saya menjadi wanitanya dengan hubungan HTS? Apa begitu murahannya saya, sehingga saya hanya cocok untuk menjadi TTMnya? Dan dia kaget donk! Langsung minta maaf, dengan seabrek penjelasan, bahwa dia sama sekali tak bermaksud meremehkan saya. Malah sebenarnya dia sudah lama memfollow FB saya, dia jadi tau kualitas diri saya, dan tertarik bahkan jatuh hati untuk mendekati saya. Ingin memiliki, namun tak mungkin mendapatkan restu keluarganya, mengingat beda usia kami yang lumayan jauh. Halah, apa dikiranya saya juga mau dan berbangga diri untuk menjadi bagian dari keluarganya? Bisa2 suami dan keluarga saya ngamuk donk kalo saya berani-beraninya menerima orang lain. Saya kan punya Status! Hehe. 

Lama kami saling adu argumen. Hingga akhirnya saya terpaksa memberi peringatan, bahwa saya tidak masalah jika dia ingin un-friend, karena saya tidak mungkin mengikuti pola hidupnya yang seperti itu. Lagi pula, saya kan sudah punya status. Selain itu, saya ini orang kampung, yang sampai kapanpun tetap berprinsip bahwa Status yang jelas itu penting dan sangat diperlukan. Keabsahan, kehalalan sebuah hubungan, bagi saya adalah mutlak, agar pintu syurga masih tetap terbuka untuk kita nantinya.

Akhirnya, doi pun mengerti. Saya tawarkan untuk menjadikan saya sebagai kakak angkatnya? Eh dia malah bilang bahwa doi sudah punya kakak yang lebih dari cukup di dalam keluarganya. Ok, fine! Kalo begitu, mari kita jadi teman saja, gimana? Dan dia pun setuju. Begitu deh, Mantemans, drama satu babak yang baru saja terjadi sore tadi. Adakah Mantemans yang pernah alami hal serupa? Atau malah ada yang lebih unik, aneh atau menarik lainnya? Yuk share di kolom komentar. 🙂

sekedar berbagi cerita,

Al, Bandung, 6 Agustus 2014

13 thoughts on “HTS

  1. Duh parah tu si doi, seenak-enaknya ajak orang untk HTS padahal bru kenal, dan juga it sama dngan perbuatan yang dilarang agama. Selain it, apa dia tidak memikirkan nasib orang yang diajak HTS, apa yang akan terjadi dngan keluarganya kelak. Syukur bnget dech Mbak Alaika masih dalam lindungan Allah swt.

  2. Di dunia nyata saya kira memang ada Jeng.
    Jaman sekarang memang aneh-aneh kok
    Di FB, BB, sms pasti juga banyak, hanya kita nggak tahu saja
    Semoga kita dihindarkan dari perilaku kayak gitu
    Dunia sudah mau kiamat kok aneh2 saja ya
    Salam hangat dari Surabaya

  3. sbnrnya malu mo mengakui.. tp kenyataannya aku cukup sering kena tembak cowok2 model bgini mbk.. Sampe aku mrasa apa aku ini semurahan itu.. jangankan yg baru kenal, yg tmn sndripun ga da bedanya.. itu yg bikin aku skrg membatasi bgt dkt ama lawan jenis, di dunia maya maupun nyata.. Tp bkn berarti ga komunikasi loh..seperlunya aja.. kalo tuh cowok udah curhat mslh pribadi apalagi mslh rmh tangga, bs dipastikan arahnya pasti mo ngajak TTM-an.. idiiih..

  4. Ya ampun …. gila ya Kak ….
    Jaman sekarang ada2 saja istilah TTMlah HTSlah ck ck ck.
    Masak sudah punya pacar masih mau nyari HTS?
    Kalo jadi nikah sama pacarnya itu, dan dia masih teringat kenyamanannya dengan perempuan yang lebih tua, kira2 ada jaminan dia gak bakal punya HTS lain lagi? Haduh haduh haduh … kayak apa kalo nanti anak2ku besar ya, ada kali istilah2 lain lagi …… 🙁

  5. saya pernah mbak Al seperti cerita ini. akhirnya saya hentikan juga, lha wong dia masih single dan saya punya suami. lah iya, bisa-bisa saya hilang jalan ke surga dan suami saya bisa murka dong kalau saya kepincut.
    memang butuh ketegasan, mbak. setuju saya.

  6. Wah, berani sekali, mbak, temannya :O. Setuju sama pendaoat mbak Ai. Saya juga sependapat sama mbak, nih, bahwa kejelasan dalam suatu hubungan itu penting dan sangat diperlukan. Rasanya, prinsip ini seharusnya tidak hanya menjadi prinsip ‘orang kampung’, mbak X)
    Salut dengan tindakannya yang tegas, mbak, ini jadi pelajaran buat saya juga ^ ^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *