Perbedaan SHM dan HGB

Screen Shot 2014-12-17 at 13.00.35Postingan kali ini memang lain dari biasanya, etapi, karena ini adalah rumah gado-gado, a random note of Alaika Abdullah, boleh donk mengulasnya di sini. Barusan tadi, aku dan teman terlibat obrolan tentang sertifikat, dalam hal ini adalah sertifikat rumah. Kan udah sering donk kita dengar, bahwa rumah A bersertifikat Hak Milik [SHM], atau hanya ber- HGB alias Hak Guna Bangunan saja, belum bersertifikat Hak Milik. Nah, si teman ingin diperjelas nih, tentang perbedaan yang ada di antara keduanya. Dan karena salah satu dari kami bertiga adalah seorang notaris, jadi dapat ilmu deh dari beliau.

Penasaran juga akan perbedaan antara Hak Guna Bangunan dan Serfikat Hak Milik, Mantemans? Yuk, semoga sharing ini bermanfaat bagi yang membutuhkan yaaa. 🙂

Hak Guna Bangunan

HGB [Hak Guna Bangunan] ternyata adalah hak untuk mendirikan dan memiliki bangunan di atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu 30 tahun ,dan jangka waktu ini bisa diperpanjang sampai 20 tahun ke depannya 

SHM (Sertifikat Hak Milik)

adalah Hak kepemilikan atas tanah dan bangunan yang didirikan di atasnya, yang hanya bisa dimiliki oleh warga negera Indonesia [WNI], dan hak ini bersifat turun temurun, bersifat kuat dan hanya bisa dipenuhi oleh WNI.

Acuan Hukum

Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA)
Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

Cara Mengurus Perubahan Tanah HGB Ke SHM (Hak Guna Bangunan ke Hak Milik) 

Tanah dengan status sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) bisa dijadikan Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan melakukan pengurusan pada kantor pertanahan di wilayah tanah di mana SHGB itu berada. Tanah dengan sertifikat HGB tersebut harus dimiliki oleh warga negara indonesia (WNI) dengan luas kurang dari 600 meter persegi, masih menguasai tanah dan memiliki HGB yang masih berlaku atau sudah habis masa berlakunya.

Ada pun syarat untuk pengajuan permohonan perubahan sertifikat HGB ke Hak Milik adalah:

  1. Sertifikat asli HGB yang akan diubah status
  2. Fotokopi IMB (izin mendirikan bangunan) yang memperbolehkan dipergunakan untuk didirikan bangunan
  3. Bukti identitas diri
  4. Fotokopi SPPT PBB (pajak bumi dan bangunan) terakhir
  5. Surat permohonan kepada Kepala Kantor Pertanahan setempat
  6. Surat penyataan tidak memiliki tanah lebih dari 5 bidang dan luas kurang dari 5000 meter persegi.
  7. Membayar biaya perkara

Nah, Mantemans, yang mungkin sedang shopping rumah atau properti lainnya, semoga informasi ini bermanfaat. Ga apa-apa sih jika kita tertarik membeli properti yang masih bersertifikat Hak Guna Bangunan, yang penting, pastikan syarat-syarat untuk bisa diubah ke Sertifikat Hak Milik nantinya, terpenuhi. Jangan sampai terjebak. :smile. Dan untuk mengurus perubahan SHGB ke SHM, bisa kok meminta bantuan jasa notaris PPAT (pejabat pembuat akta tanah).

Selamat berbelanja properti! 🙂

sekedar coretan berbagi,

Al, Bandung, 16 Desember 2014

sumber referensi:

sekitarduniaunik.blogspot.com/2013/03/perbedaan-hak-guna-bangunan-dan.html [accessed on 16 Des 2014 : 13.15 wib]

7 thoughts on “Perbedaan SHM dan HGB

    1. Iya, Mas Edi. Saya juga baru tahu kalo bisa sampai 30 tahun, dulu setahu saya 25 tahun, baru diperpanjang lagi, gituh, tapi ternyata dari hasil ngobrol2 dan browsing2 ternyata bisa sampai 30 tahun. 🙂

    1. Nah, semoga dengan adanya info ini, kamu udah bisa ngasih masukan tuh ke teman-teman lainnya, ya, Cit. 🙂 Btw, kemana aja nih? Kok lama ga terlihat di belantara GamInong Blogger? 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *