And I was Shocked!

kala iman tak lagi di dada
What a crazy training!

Ini adalah kisah fresh from the oven. Emangnya baking kue? 😀 Bermula dari telephone Musa dari Saudi Arabia dan berlanjut ke chatting online via skype. Musa, adalah teman online yang sudah kukenal sekitaran sepuluh tahunan. Asli Mesir [Egyptian] dan bekerja di Saudi Arabia. Berkedudukan lumayan tinggi di kantornya, dan menurutku [dari chitchat selama ini], termasuk educated person dan sopan. Belum pernah ketemu secara tatap muka di darat sih, tapi kalo via cam, sudah beberapa kali, bahkan sering. Ber-cam ria, adalah salah satu cara yang kupakai untuk membuktikan bahwa lawan bicaraku bukanlah seorang scammer. Sering aku meminta lawan bicara untuk melambaikan tangan sambil menyebut namaku, atau memintanya mengambil sesuatu di atas meja dia, dan menunjukkannya di cam. Ya sekedar untuk membuktikan bahwa itu adalah live cam, bukan rekaman.

Dan sebenarnya, ber-cam ria denganku itu ga asyik banget deh! Beberapa teman cowok bilang, aku tuh ga asyik diajak ber-cam ria. Karena apa? Karena aku tuh suka-suka gue banget. Ga pernah mau menuruti permintaan mereka yang menurutku aneh-aneh. Ya kalo sekedar diminta melambaikan tangan, menuliskan namaku di atas kertas dan menunjukkan ke cam, untuk meyakinkan lawan bicaraku bahwa aku beneran live cam, bukan rekaman, aku sih ga keberatan. Tapi kalo yang aneh-aneh, aku mah ogah.

Musa juga sependapat dengan gerombolan teman-teman itu. Bahwa aku tuh ga asyik diajak nge-cam. Judes, konservatif, dan sering kali menolak. Bahkan aku dijulukinya sebagai grand mom, karena selalu saja pake kaos oblong dan ga pernah tampil seksi di cam. Lha, emang ngapain harus tampil seksi. Anehnya, walo sering dibilang ga asyik, tapi saat kutanya kenapa suka nge-cam denganku, jawabnya dengan santai begini; ‘entah, sebenarnya benci banget sama kamu, tapi suka kangen kalo ga membaca penolakan-penolakan dari kamu! I miss you, Ms. Big No!’ Ya, selain julukan-julukan pedas di atas, Musa juga menjulukiku Ms. Big No! Ow ow! Teganya….teganya! Dan bukan salahnya sih, karena memang aku selalu saja menjawab No untuk setiap permintaan-permintaan anehnya. Permintaan aneh gimana sih, Al?

Misalnya nih, permintaan untuk berdiri di cam, agar dia bisa melihat seberapa tinggiku, langsingkah aku, bla bla bla. Ya jelas aku ga mau lah! Enak aja merintah gue.

Dan karena jawabanku selalu diakhiri dengan, I accept no request nor command, maka dia juga membubuhkan kalimat, ‘this is not request or command, but a hope!’. Haha. Dan jawabanku tetap, NO. Makanya jadilah aku Ms. Big No baginya.

And, I was Shocked!

Well, back to the topik, Yes, I was Shocked by Musa’s Stories and experience!

Bayangin, Mantemans! Setelah menghilang lebih dari 4 bulanan, gara-gara mobilnya ditabrak oleh seorang Arabian asli, dan malah si Arabian yang balik menuntut Musa, akhirnya Musa dideportasi ke negerinya, Mesir. Dan dalam pengurusan agar dia boleh kembali ke Saudi dan bekerja kembali di perusahaan di mana dia bekerja selama ini, Musa dikuras dompetnya hingga minim. Oleh siapa? Oleh berbagai pihak lah! Hihi, ga beda jauh dari keadaan di negeri kita ya, Mantemans?

Nah, cerita Musa malam ini, tak banyak berkisah tentang dompetnya yang kurus kering karena tragedi di atas sih, melainkan mostly berkisah tentang keheranannya sendiri atas apa yang telah terjadi selama dia di Mesir. Dan aku pun langsung menjadi pendengar budiman, begitu dia menulis kalimat ini. ‘Alaika, please, pay your attention to me, I will share you a very funny experience. You will not believe me as I didn’t.’

Dan, langsung deh aku penasaran. Aih, kisah misteri kah? Kisah Mummi Firaun yang tiba-tiba bangkit dan mengejarnya kah? Tak ingin semakin penasaran, maka aku pun langsung membalas. Ok, ok. I will stop writing and my attention is yours, please.” Tak lupa kusematkan tanda 😀 diujung kalimatku.

Dan Musa pun memulai kisahnya. Aku menanti dengan penasaran karena di ujung sana Musa is typing terlihat ga selesai-selesai. Ih, ngetik apa sih anak ini? Dan aku terpana membaca untaian kalimatnya setelah enter di sana dihentak.

Bahwa, suatu hari, pintu apartemennya diketuk dan ketika dibuka ternyata seorang sahabat [wanita] berkunjung. Wanita ini dan dirinya memang berteman baik. Si wanita memiliki seorang anak perempuan seusia 17 tahun, dan baru pacaran dengan seorang anak laki-laki yang tak jauh beda usia dari si anak perempuan.

Nah, persoalannya adalah, si anak perempuan dan kekasihnya ini ingin ML! What? Yes, aku tak salah membaca kalimat yang diketik Musa. Yes, pasangan kekasih muda ini, pengen mencoba making love alias bercinta! Dan si Ibu, kuatir jika ML pertama kalinya ini, akan membuat anak perempuannya trauma! Maka, kedatangannya ke apartemen Musa adalah untuk meminta tolong pada Musa untuk mengajari/mentraining anak perempuannya bercinta!

Iyaaaa! Beneran, Musa bersumpah bahwa dia tak salah menulis. Memang kedatangan teman wanitanya itu adalah untuk memintanya melatih anak perempuan si wanita itu ML. Tentu saja Musa kaget dan menolaknya. Karena, menurut Musa, sampai usianya kini 42 tahun, dia belum pernah bercinta dengan anak gadis, apalagi yang usianya masih unyu-unyu gitu. Ya jelas dia menolaklah, lagian juga, moodnya [menurut Musa sih], sedang jelek dan sedih, gara-gara tragedi deportasi yang menimpanya. Mana selera untuk bercinta, dengan gadis bau kencur pula!

Namun, si wanita [temannya itu], meminta agar Musa melihat sisi pertemanan yang telah terjalin di antara mereka. Kepada siapa lagi dia akan meminta tolong. Di dalam pandangannya, Musa adalah seorang lelaki yang baik, sopan dan lembut. Makanya dia percayakan putri tunggalnya untuk ‘dilatih’ oleh Musa.

Sungguh, aku terbengong mengetahui ada ibu yang berfikir seperti ini! Meminta sahabat lelakinya untuk memperawani anak gadisnya dengan dalih melatih si anak bercinta. Dan kata Musa, hal seperti ini sangat lazim terjadi di negerinya, walau secara terselubung, suka sama suka. Ketika Musa di seberang sana mengirimkan icon 😀 aku malah merasa ada amarah yang merambat di dada. Astargfirullah! Betapa bobroknya moral penduduk negeri itu? Musa berkeras bahwa itu adalah bentuk kasih sayang seorang ibu dalam memastikan agar anaknya tidak trauma dan dapat menikmati seks secara benar, sementara aku berkeras bahwa itu adalah perbuatan paling mengenaskan dari seorang ibu kepada anak gadisnya. Dan Musa menyerah saat kuminta agar dia biarkan aku pada pendirianku dan dia pada pendiriannya. Tak guna berdebat karena kami berdua tak lagi pada satu sisi yang sama.

Selanjutnya, Musa bercerita, bahwa dalih ‘demi sahabat’ telah membuatnya menyetujui permohonan si ibu. Namun dia masih bingung bagaimana harus memulainya. Karena, seperti yang diakuinya, belum pernah dia bercinta dengan wanita yang tak disukainya. Apalagi bercinta dengan alasan seperti ini, untuk melatih, train. Cerdiknya, si sahabat wanitanya itu [ibu si anak], mengajaknya ‘minum’ sembari nonton video porno. Barulah dirinya digiring ke peraduan sang putri yang telah menanti di sana. Dan… tentulah Mantemans sudah dapat membayangkan apa yang dilakukan Musa kemudian di dalam kamar itu kan?

Ibarat kucing, jangankan dikasih daging, dikasih ikan asin juga tak bakalan nolak toh? Begitu juga Musa, pastinya. Walo tadinya merasa janggal harus memperawani anak gadis unyu-unyu, berbekal pikiran yang mulai fly dan imajinasi yang mulai liar menjalar, tentu akan memudahkannya menunaikan tugas dan wujudkan harapan si ibu, yang tentu saja menanti di luar kamar.

Sebenarnya aku sudah malas membaca untaian kalimat Musa, yang berusaha menjelaskan dengan detail. Tapi feelingku merasa ada sesuatu yang lain yang akan muncul sebagai klimaks dari hal ini. Soalnya Musa tadi mengatakan ini sebagai a very-very funny experience. Makanya aku tetap memantau tulisannya.

Dan…, di tengah perjalanan mendaki puncak impian. Suara erangan si gadis terdengar sampai ke telinga si ibu, yang kuatir anak gadisnya trauma/terluka, membuat langkahnya langsung berlari ke dalam kamar. Dan, sesampai di dalam kamar? Walo Musa menggantung kalimatnya, aku sudah bisa menebak kejadian itu dengan marah!

Tak perlu dia menyuruh aku menebak-nebak. Boleh saja dia menuduh aku sebagai wanita konservatif, tapi untuk urusan seperti ini, pikiranku tak bodoh-bodoh amat. Kuduga dengan tepat, bahwa si ibu yang nyelonong ke dalam kamar, langsung terpana menyaksikan adegan yang sedang terjadi, dan langsung berhasrat untuk turut serta di dalam permainan. Dan Musa langsung terperangah! ‘Grand Ma, how can you know?’ Tak lucu memanggilku grand ma dalam situasi seperti ini, Musa!

Dan Musa langsung kucecar dengan kalimat-kalimat pedas. Seharusnya sih aku menahan diri, toh itu bukan urusanku. Tapi hatiku kok rasanya panas mengetahui situasi itu. Eits, bukan panas karena cemburu. Tapi panas dan kecewa karena respectku terhadap Musa langsung meluncur ke dalam rekahan bumi. Aku sungguh tak lagi mampu menghargainya, yang selama ini kuanggap lelaki santun dan educated. Aku tak akan peduli jika dia mau ber-threesome ria dengan dua wanita atau bahkan beberapa sekaligus, sejauh wanita-wanita itu bukan ibu dan anak, kakak dan adik! Tapi ini? Mom and daughter at once! Oh, Tuhan! Dan ini menurutnya, sangat lazim terjadi di negerinya! Mesir. Oh Tuhan. Dan sambil terus chat dengannya, aku langsung lari ke rumah si Mbah, googling. Dan, kecewa….karena beberapa artikel berbicara serupa. 🙁 Bahkan prilaku seperti ini, sudah membudaya sejak zaman Mesir kuno. Ops!

Kami berdebat, dan Musa masih heran kenapa aku jadi marah. I did nothing wrong, Alaika. Masih berkeras dia dengan kalimatnya. Dan aku akhirnya menuntaskannya.

Yes, for you, you did nothing wrong. But in my mind, this is truly weird. Its like animal, Musa. Animal making love with his/her child or children, sisters, brothers and parents! We are not animal! I don’t care if you make love with some women or girls at once, as far as they have no family relationship, but this? Mom and daughter? How can? I admired you as a man who appreciates woman, as you always said. But, this action, shown that you didn’t respect any woman. I am sorry to say, I lost my respect to you. 🙁

Dan kami masih terus berdebat. Hingga kemudian aku sadari, ngapain juga aku berdebat meluruskan sesuatu yang baginya sudah membudaya. Capek dweh! Jika empat huruf ini, I M A N, tak bersemayam di dada, maka hal-hal seperti di atas tentu akan mudah untuk terjadi. Jadi tak guna berdebat dengannya, kuucapkan terima kasih pada sharingnya dan kukatakan bahwa ini akan jadi postingan penambah entry di blogku. Dan dia mengijinkan seraya berjanji tak akan mengulangi hal itu lagi, jika itu telah membuatku marah.

Eh, emang eikeh siapa? Itu mah urusan kamu, atuh, Musa! Kalo mau diulang juga silakan, tidak juga ga pa-apa kok. You are free to do anything you like. Tapi jika kamu adalah suamiku, adikku, sodaraku, maka…, tunggu, aku akan mengejar dan menghajarmu hingga tuntas! Ah iya, aku juga sempat mengatakan bahwa aku beruntung sekali tidak dilahirkan di negeri-negeri seperti negerinya. Aku bersyukur lahir, besar dan hidup di negeriku sendiri. I love Indonesia, my lovely country!

Catatan kecil,

Al, Margonda Raya, 25 July 2015

42 thoughts on “And I was Shocked!

    1. Iya, Mba, bersyukur banget saya lahir, besar dan hidup di negeri tercinta ini. Kita punya IMAN yang kuat untuk tak perlu meniru hal2 yang demikian ya, Mba. 🙂 Insyaallah.

  1. Innalillah, shock banget bacanya….ini beneran sudah membudaya di Mesir, Mba? Ya Allah…..semoga hal seperti dijauhkan dari anak keturunan kita….

    1. Shock banget emang, Mba. Aq sampai skrg msh kehilangan respect thd temanku itu jg negerinya. Yaaa, walo ga semua begitu sih, tp, negeri yg mayoritas umatnya moslem, masak ngono? Nauzubillah…

  2. seharusnya nama beliau jangan Musa, tapi Firaun.. hehehehe
    perilaku budaya seks aneh di Mesir ini syukurlah tak ada dalam budaya tradisional Indonesia. Tapi perilaku seks menyimpang sudah marak di kota-kota besar, misalnya swinger, atau tantra massage dengan yang non muhrim..

    1. Bener banget, Yos! Firaun cocok tuh namanya, jgn Musa ya! Hihi. Gile aja, ceritanya itu sukses bikin shock eikeh.
      Iya sih, denger2, byk banget prilaku seks menyimpang yg telah menjamur di kota2 besar kini ya? 🙁 semoga kita dijauhkan dr hal2 sedemikian ya… *praying

    1. Yup, Indonesia memang jauh lebih baik ya, Mbak May, walo ga bisa kita pungkiri bahwa di berbagai sudut kota2 besar, telah pula dikotori oleh berbagai lelakon nyeleneh. Mudah2an kita djauhkan dr hal2 spt ini ya, Mba…

    1. Hehe, jaman jahiliyah ini masih banyak bertahan di berbagai belahan dunia deh kayaknya, Mak. Mudah2an kita dijauhkan dr hal2 buruk dan nyeleneh begini yaaa.

  3. Astaghfirullah…
    Astaghfirullah…
    Astaghfirullah hal ‘adhziim

    Dan budaya yang seperti itu ada, karena sejak lama mereka sudah mengingkari apa yang agama mereka tunjukkan.
    Semoga Allah selalu melindungi kita dalam iman islam selamanya.

    .phy.

    1. Musa dan temannya itu muslim Mba. Dan saat kutanya bagaimana lebaranmu, dia jawab dengan jujur bahwa dia tidak merayakannya. Pantas saja cahaya iman tak bersemayam di dadanya… 🙁

    1. Saya lebih ngeri lagi Mak. Sepuluh tahun usia pertemanan kami lho, Dan selama ini blm pernah ada hal2 nyeleneh yg dia utarakan. Sehingga sy menghargainya sebagai teman yang baik dan enak untuk bercerita. Eh, dia kena batunya, kali ini, dia kira ceritanya ini adalah sesuatu yang lucu, ga taunya membuat saya menjaga jarak drnya dan menjauh.

    1. Entahlah Mak, apa memang bener kebudayaannya yg begitu ato individu2nya yg berprilaku begitu. Yang jelas, cerita ini sungguh bikin shock. Beruntunglah kita hidup di negeri tercinta inibya, Mba?

  4. Hadeh.. aku juga baru tahu ada kejadian kayak gini.. Ya ampun… Sebegitunya hidup disana…

    Benar, untung, kita terlahir di Indonesia… Bersyukur banget…

    @ranselahok

  5. Tuhaaan, rasanya pengen nangis sekaligus jijik. Urusan anak di training untuk urusan seks pernah fenny dengar tapi di lakukan oleh orang tuanya sendiri di luar negeri sana Ah, aku dah g bisa berkata-kata lagi mak

  6. Maaf Mak, saya satu-satunya yang ngga percaya dengan cerita konyol Musa, saya yakin dia cuma ngarang, tujuannya jelas untuk memancing siapa tahu Mbak Al bisa dikadalin, diajak ngelakuin imagination/virtual …., nah akhirnya Mak Alaika mau dimintai uang, dengan alasan kebangkrutan tadi..maaf loh Mak..ini analisa saya saja, semoga Mak Alaika waspada…

  7. Al, gila! bener-bener gila ini mah, semua gila, si Ibu terutama. Hah, banyak cerita yang ML di luar nikah di Indonesia dari situs or koran, tapi belum pernah nemuin baca yang seperti ini melakukan aksi dengan segitiga…Ternyata Indonesia, sebobrok-bobroknya masih jauh di atas bangsa lain, ya. (itu yang Bunda tau dari bacaan), tapi kenyataan yang kita tidak tau kan… wallahualam deh. Semoga iman Islam kita masih kuat. Aamiin.

  8. Apakah benar ini lazim di sana, Mak?
    Jangan-jangan cuma segelintir saja (oknum) yang mempraktekkannya, tapi dia bawa-bawa nama negaranya. Sama seperti di Indonesia, Mak. Sekarang lagi banyak kejadian mutilasi, tapi bukan berarti Indonesia melazimkan mutilasi.

    by the way, salam dari bumi Borneo ya, mak ~_*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *