Hidup adalah Pilihan

Pasti kita udah sering banget lah ya, mendengar istilah di atas. Hidup adalah Pilihan. Bagi sebagian besar masyarakat, pasti akan menjawab ‘Yes, indeed.’ Yup, bener banget, hidup adalah pilihan. Namun bagi sebagian masyarakat lainnya, ada juga yang membantah keras pernyataan di atas. Dan mengapa tulisan ini tayang di rumah ‘Life Style’ ini? 😀

Tak lain dan tak bukan, karena pemilik blog ini *tunjuk diri sendiri*  baru saja terlibat ‘debat cantik’ dengan teman-teman di salah satu grup yang diikutinya, yang heboh berbincang dan berdebat tentang quote di atas. Hidup adalah Pilihan versus Hidup Bukanlah Pilihan.

Hidup adalah pilihan

Obrolan yang dimulai dengan sapaan ucapan selamat malam yang ramah, lambat laun menjadi panas gara-gara seorang teman melempar topik ‘hidup adalah pilihan’. Menurutnya, hidup ini memang pilihan, sehingga kita selaku manusia, khalifah di atas bumi ini, harus bijak, cerdik dan cerdas dalam menentukan pilihan hidup, agar kita dapat hidup sejahtera, aman damai dunia akhirat.

Dan, situasi menjadi panas, manakala ketika salah satu member grup, dengan arogan berteriak ngetik dengan kapital lock -> HIDUP BUKANLAH PILIHAN. 🙂 Wow, bakalan rame inih! Dan bener saja, si pelempar bantahan terlihat ‘is typing’ tanpa berkesudahan dalam waktu yang lama. Pasti bukan aku saja yang menduga bahwa dia sedang ngetik panjang, teman-teman lain di grup ini juga pasti berfikir sama sepertiku. Pasti si kawan ini sedang ngetik argumen panjang untuk menjabarkan pemikirannya, membenarkan kalimat Hidup Bukanlah Pilihan yang dilontarkannya itu. Bener saja, argumen panjangpun terhampar tak lama kemudian. Dan kuyakin langsung disantap oleh puluhan mata member lainnya.

Menurutnya, Hidup Bukanlah Pilihan, karena sejak awal kehidupan sebenarnya kita tidak diberi pilihan, melainkan dipilih oleh sang Pencipta! Allahlah yang memilih sperma dan sel telur mana yang layak bersatu membuahkan embrio. Allah pula lah yang menetapkan si embrio akan bertahan hidup di dalam rahim hingga 9 bulan kemudian lahir dan lanjutkan kehidupan di dunia ini. Masih menurutnya, Hidup Bukanlah Pilihan, karena Allah sudah memberikan arahan [SOP] kehidupan untuk kita ikuti, sebagai panduan dan tuntunan kehidupan.

Argumen ini dibenarkan oleh beberapa member lainnya, namun juga dibantah oleh member lainnya lagi. Obrolan sambut menyambut, balas membalas. Yang satu kekeuh mempertahankan argumennya, dengan tak lupa membawa ayat-ayat Al-quran sebagai pendukung dalil argumennya. Yang membantah pun tampil dengan argumen plus ayat pendukung. Weis, smartphone masing-masing pun menjadi tang ting tung, tiada henti. Haha.

Aku hanya jadi penonton, sambil refreshing ke grup lain, cari-cari topik seger ringan dan humoris. Jenuh juga membaca debat cantik yang terasa kian berat itu. Apalagi ini malam Lailatul Qadar kan ya? Masak diisi dengan debat kusir seperti itu sih? Ampun dije deh ih! Makanya aku memilih untuk melipir dulu ke grup lain, baru nanti setelah ada 100 chat masuk lagi untuk membaca sejauh mana sudah ‘debat cantik’ itu berlangsung.

Dan…? Oh My God, bener-bener yeee? Ini orang-orang getol amat berdebat. Mbok ya ambil jalan tengah saja napa? Ga usah saling menuding begitu ah! Yang pro Hidup Bukanlah Pilihan, menuding oposisi-nya sebagai orang yang mau saena-e dewe dalam menjalani kehidupan. Makanya sepakat dengan istilah Hidup adalah Pilihan.

Sementara yang pro Hidup adalah Pilihan, mempertahankan argumennya bahwa sebenarnya, memang kita diberi pilihan kok di dalam menjalani kehidupan ini. Mau menjadi apa? Mau menjadi orang yang tau bersyukur? Mau jadi orang yang baik dan siap masuk syurga atau ingin jadi penjahat, semua itu adalah pilihan, yang harus dipilih dan dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Hm…

Aku sendiri sih, tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Menurutku nih, kedua pernyataan itu adalah BENAR. Lho, Al? Piye toh? Bener piye?

Hidup BUKANLAH Pilihan, ketika kita berhadapan dengan situasi darurat yang mengharuskan kita mengambil langkah positif untuk mengamankan situasi kehidupan kita. Misalnya? Misalnya nih, saat kita berhadapan dengan situasi darurat. Semisal, terjadi gempa bumi dengan skala di atas 4 skala Richter. Hidup BUKANLAH Pilihan. Kita harus mengambil satu langkah saja. Selamatkan diri! Tak ada pilihan lain. Lari ke tempat yang lebih aman, adalah satu-satunya keharusan.

Berhadapan dengan situasi di atas, ga mungkin donk kita memilih untuk sembunyi di bawah meja atau berdiam diri di dalam rumah? Satu-satunya langkah untuk kita lakukan adalah run away! Cari keselamatan.

Hidup adalah Pilihan, ketika kita berhadapan dengan banyak pilihan di dalam kehidupan. Misalnya saja, pilihan memilih sekolah, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup [walau jodoh sebenarnya sudah diatur, teteup saja, kita harus menjemput alias mencari, memilih dan memutuskan dengan hati dan pikiran waras, cocokkah si dia untuk menjadi pasangan kita?

Hidup adalah Pilihan, ketika kita harus menentukan akan tetap nerimo bekerja di suatu tempat yang sudah sekian lama tiada kenaikan gaji, tiada progres yang mencerahkan, yang terus saja bikin hati mengkel dan derita batin, atau kita ambil langkah baru, yaitu mencari peluang lain yang jauh lebih baik?

Hidup adalah piihan, dalam menentukan ikut SOP Ilahi dan beroleh syurga, atau membangkang dan menjauhi SOP dan mengikuti jalan lain yang justru mengarah ke neraka. 🙂 Hidup adalah pilihan, dengan catatan, apapun yang kita pilih, tetap ada konsekuensi yang harus kita terima dengan lapang dada.

Itu sih menurut eikeh, Mantemans! Kalo menurut Mantemans, piye?

sekedar coretan,

Al, Margonda Residence, 12 July 2015

16 comments on “Hidup adalah Pilihan

  1. Apakah menjalani kebaikan atau keburukan dalam hidup kita adalah pilihan? Bapak M. Quraish Shihab menjawab dgn ayat Al-Qur’an Surat Asy-Syams: 7-8. Yang intinya bahwa Allah Swt telah mengilhamkan potensi kebaikan atau keburukan. Kita lah yang memilih, untuk mengikuti kecenderungan yang mana…

    Apakah dalam hidup kita tidak dapat memilih? Nah, kalau yang ini saya setuju dengan pendapat Kak Alaika. Ada hal-hal yang kita tidak dapat memilih oleh karena keterbatasan (taqdir). Ada pula yang kitanya bebas memilih. Kadang pilihannya seperti dua sisi keping logam. Kadang lebih beragam seperti hidangan menu takjil misalnya. Hehehe…

    • Yup, bener banget, Azhar. Adakalanya kita memang dihadapkan pada satu pilihan saja, sehingga tak ada pilihan lain. Tapi adakalanya kita memang harus menentukan pilihan yak?

  2. yup hidup menurutku adalah piihan hidup
    apapun yg kita pilih penuh dengan resiko dan konsekwensinya harus menjalani dngan enjoy, karena itu dah termasuk pilihan hidup sesuai dg kata hati.

    pokoe ttp cemungut eeaa apapun pilihan hidup

  3. Menurutku hidup itu adalah keduanya; Pilihan dan Bukan Pilihan. Jadi gak perlu diperbdebatkan sebetulnya. Namun, konon katanya, tak ada rumusan, teori, statement, rujukan, dsb jika tak diawali oleh ketidaktahuan atau saling meyakini rasa tahu masing-masing. Maka ujung-ujungnya, debatlah yang kerap memicu ragam penjelasan yang akhirnya bisa atau tidak bisa diterima oleh setiap individu di muka bumi ini. Sekali lagi, aku setuju mempercayai kedua versi tentang hidup itu. Hahahaha …. *mbundeeer*

    • Sepakat denganmu, Mak Wiek. Yup. Tak perlu berdebat karena sebenarnya hidup adalah keduanya. Seperti yang aku urai di atas khaan? Thanks for the addition yaaa. 🙂

  4. pagi2 dah baca tulisan cerdas, saya setuju dgn mba al, keduanya bisa benar tergantung situasi dan kondisi

  5. Sebetulnya kalo liat argumen dua-duanya gak ada yang salah ya mbak, yang salah menurutku yang karena berdebat itu hati jadi KZL KZL KZLLLLLL hehehe … satu grup harusnya saling jaga perasaan, da beda pendapatmab wajar atuh :)))

    • Yup. bener banget, Mak Winny. Keduanya bener, tinggal lihat situasi dan kondisi aja. Pasti kedua argumen itu akan klop pada sikon yang tepat. 🙂

  6. Kalau saya akan pilih: sepakat untuk tidak sepakat, hehehe. Akhirnya semua kembali ke pilihan masing-masing. Karena meski didebat sampe jempol bengkak juga gak akan ada akhirnya. Selain berakhir dgn jempol bengkak itu ya, Mak. Hehehe.

  7. Memang hidup itu pilihan ya mbak Al, saya setuju karena hidup memang harus memilih kalau dipilih namanya lagi kontes, heheh 😀

  8. Kalau saya, hidup itu ya pilihan…Jika kita dihadapkan pada persoalan diluar kemampuan kita, sesungguhnya itu juga pilihan bukan?

    Salam Mbak Alaika?

  9. Artinya, dlm konteks tertentu kita memiliki kesempatan utk Hidup adalah Pilihan. Dan pd case yg lain kita harus menyelamatkan diri selagi bisa, jadi pilihannya memilih berusaha hidup.

    *komentarnya mbingungi ya mbak*

  10. kalau kata saya tergantung konteksnya, Mbak. Kalau untuk urusan ibadah yangw ajib tentu saja bukan pilihan. Tapi banyak hal juga di dalam hidup dimana kita bebas memilih dengan diiringi tanggung jawab tentunya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *