My New Life

Tak terasa, sudah tanggal 7 Juli ajah! Dan ga terasa pula, sudah hampir sebulan aku jadi pendatang baru di kota ini. Ciee, pendatang baru bo’! 🙂

Sang waktu memang bergulir semakin cepat, dan sang garis takdir juga mengalir tanpa kita mampu memprediksi. Berharap bisa tetap di kota Bandung yang adem ayem menyejukkan hati, namun apa daya, sesuap nasi dan segumpal berlian ku ternyata adanya malah di kota metropolitan Jakarta. Sehingga mau tak mau, dengan berat hati terpaksa kuayunkan langkah menuju kota yang sebenarnya menjadi tumpuan harapan banyak orang ini.

Memang sih, Jakarta, pernah menjadi impian untuk tempat tinggal dan arena mencari nafkahku, duluuuu. Saat aku masih duduk di perguruan tinggi puluhan tahun lalu. Namun secara perlahan, keinginan itu malah berangsur memudar, berganti keinginan untuk malah bisa cari nafkah di kota yang debutnya tidak seaktif, semacet, dan sesibuk kota DKI Jekardah ini.

Namun, kembali lagi ke yang namanya kebutuhan dan [lagi lagi garis nasib yang tak bisa diprediksi], akhirnya, aku berdamai dengan keadaan. Mencoba menikmati setiap ritme kehidupan di kota yang ternyata memang teramat sangat aktif ini. Meniru seorang kolega [bule cantik] saat sama-sama aktif di Medical Team International dulu, bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita mampu menikmati momen demi momen yang menghampiri.

Trying to enjoy any moment that come into your life. It will teach you to be a capable person in counquering the storm of life. ~petuah si temen bule bijak

Dan jika dipikir-pikir sih, bener juga ya, Sobs? Karenanya, aku sering mencoba untuk menikmati setiap momen yang hadir di dalam kehidupanku. Seperti kini, setiap pagi, aku begitu menikmati momen melangkah keluar dari tempat tinggalku menuju stasiun Universitas Indonesia. Menikmati momen menanti kereta dan berhimpitan di dalamnya dengan jubelan manusia lainnya menuju tempat kerja. Lanjut dengan langkah berikutnya memasuki halte busway Cawang, menanti busway atau bus APTB yang akan membawaku ke halte Kuningan Barat. Yes, I enjoying each moment! *Syukur-syukur ada 1000 langkah nih*

Jika di Bandung aku kerap jalan bareng Gliv tercinta, maka kini, Gliv lebih banyak waktu istirahat di apartemen. Hanya sayang, sampai kini, Gliv parkirannya masih hitung perhari, karena belum ada space untuk parkir bulanan. Dan ini, sungguh mengoyak dompet bo’. Bayangin, 20 rebo sehari, artinya sebulan jadi 600 rebo dweh! Hiks…. *sabar…. semoga bulan ini akan ada space untuk bisa parkir bulanan, ya Gliv!*

Terus, gimana ceritanya sampai kerja di Jakarta, Al? Bukannya udah ngerasa nyaman dengan dunia freelance selama ini?

Nah, ituh! Honestly, aku tuh emang ngerasa banget jika I do love freelance writing work. Bisa kerja sesuai keinginan kita, ngatur waktu senyaman kita, bisa bikin aturan bahkan SOP sendiri. Ga harus tunduk pada aturan baku kantoran [terikat jam kerja, tugas-tugas, de el el]. Jujur, dunia online, blogging, freelance writing itu duniaku banget deh. Walau jujur [lagi nih], ada kalanya sejumput kerinduan hadir akan dunia humanity work [yang juga masih aku cintai]. Sejauh ini, aku memang menikmati banget kehidupanku di Bandung, hangout dan berkegiatan bareng teman-teman KEB, Blogger Bandung, RTIK Bandung, mau pun rumpi cantik bersama dua sahabat karib –> Nchie Hanie dan Meti Mediya. Yes, I do enjoyed all those moments. 

Namun, balik lagi ke kebutuhan hidup yang tak mungkin untuk tidak dipenuhi. Walau banyak teman-teman freelance writers yang sudah menangguk kebebasan finansial dari pekerjaan mereka, namun agaknya, hal yang sama belum menghampiriku. Sehingga, jiaaah, sehingga…, aku harus mengkaji ulang deh. Ga iya nih, setiap tiga bulan sekali aku pasti akan didera sesek napas gegara sms cantik ‘soft reminder SPP dan tagihan dormitory Intan’ yang angkanya lumayan bikin nyeri hati 😀 

Demi Intan tersayang, seriously aku harus apply-2 pekerjaan lagi deh. Aku butuh pekerjaan tetap dengan income yang seperti dulu. Tapi menembus United Nation lagi untuk posisi Jakarta juga bukan pekerjaan gampang sih. Apalagi saat ini, di mana banyak project completed, sehingga banyak staff yang sudah selesai kontrak kerja dan juga applying the same position. Ada sih kemungkinan untuk tembus, tapi di Indonesia Timur sanah. Piye donk dengan Intan? Bisa mahal di ongkos donk ntar.

Maka, aku pun pilah pilih dalam melempar lamaran kerja. Inginnya sih yang di Bandung, tapi untuk humanity project, jarang banget ada yang di Bandung. Sehingga mau tak mau, posisi Jakarta pun menjadi pilihan. Bersambut juga beberapa lamaranku. Alhamdulillah. Yang paling menarik tuh, aku dapat panggilan dari Save The Children untuk Posisi Jakarta. Dan tahukah Mantemans jika yang menarik perhatian mereka adalah karena aku mencantumkan ‘Professional Blogger’ sebagai salah satu profesiku di antara pekerjaan2 lain yang pernah aku lakoni. See? Blogger tuh udah mulai dilirik lho! Dan mereka memang sedang buka lowongan untuk posisi Donor Relation Coordinator yang membutuhkan kemampuan copy writing sebagai salah satu syarat requirementnya.

Sembari menjalani interview dan beberapa test sesuai prosedur rekrutmen di SaveThe Children, aku juga memasukkan lamaran di Kedutaan Besar Turki, Jakarta. Nekad aja sebenarnya, hehe. Belum pernah punya pengalaman kerja di embassy sih, tapi boleh donk nyoba? 😀

Ealah, ternyata malah dipanggil untuk interview. Dan bener dugaanku. The interviewer heran dengan backgroundku yang engineer kok malah melamar ke kedutaan. Dan akhirnya setelah bincang-bincang cantik, mereka jadi maklum dengan alih profesiku dari seorang professional di industry sector menjadi seorang pekerja kemanusiaan. Dan ujung-ujungnya aku malah diminta untuk bercerita tentang pengalaman kerjaku di dunia humanity saat tsunami recovery project di Aceh dulu. Saking asyiknya interview yang akhirnya jadi ngobrol2 cantik itu, aku sempat mikir, ‘wah, kayaknya mereka ga minat deh untuk mempekerjakan aku di kantor mereka, habis, interviewnya cantik begini.’ Tapi dari awal sih aku udah nothing to lost aja sih.

Ealah, akhirnya, setelah beberapa kali bolak balik Bandung – Jakarta untuk tahapan interview di kedutaan ini, Alhamdulillah, akhirnya aku kini resmi bekerja di kedutaan yang satu ini. Alhamdulillah again ya, Allah.

And how about Save The Children? Hm, karena aku lebih dulu mendapat keputusan diterima di Turkish Embassy, maka aku menerima tawaran ini deh, dan meninggalkan peluang yang sedang proses di Save The Children. Ga berani take a risk sih akunya, ya kalo ternyata di SDC diterima, kalo engga diterima, sementara yang di embassy aku tolak, kan berabe nantinya? Sementara dari segi gaji, menurut perkiraanku sih, bakalan berimbang sih. Jadi aku tekadkan untuk terima tawaran dari Kedubes Turki ini deh. Bismillah aja. 🙂

Dan kini? Here  I am. Kerja di seputaran Kuningan, tinggal di sebuah apartemen seputaran Jalan Margonda Raya. Jauh? Ah, ga jugak. Kan ada komuter dan busway sebagai moda transportasiku. Praktis dan murah meriah. Asyik juga lho bergelayutan di kereta dan busway. 😀 Ga pengen cari kosan di Jakarta aja, Al? Pengen sih, tapi mahal banget!

sekedar coretan,

Al, Margonda Raya, 6 Juli 2015

18 thoughts on “My New Life

  1. whatever choices you make, make sure you take them wholeheartedly…selamat ya maaak…dunia baru yang tidak kalah menarik menantimu..dan welcome to Jakarta :).have a blast mak Al sayaaang..

    1. Iya, Mak Indah. Semoga aku betah di dunia yang baru ini yaaa. Hope it will be interesting juga… Thanks for your great support, Mak Indah sayang!

  2. Walah mbak ternyata skrg di Jakarta to…. Wah selamat bergabung dlm kehidupan di ibukota negara kita.
    Trus job desk mbak Al apa tuh di kedutaan? Bakalan sering terbang ke Turki dong ya…
    Okey selamat menikmati kehidupan baru ya mbak 🙂

    1. Iya Mba Reni, aku sekarang jadi salah satu penambah kemacetan Jkt nih, haha.
      Job di kedutaan? Macem2 Mba. Sedang mencoba beradaptasi nih. 🙂
      Makasih kunjungan dan ucapan selamatnya, Mba Reni!

  3. Walah tenyata mbak al sekarang di jakarta to.
    Selamat bergabung dg kehidupan jakarta mbak.
    Trus desk job nya apa tuh di kedutaan?
    Bakal sering terbang ke turki juga ya?

    Okey selamat bertugas di tempat baru mbak… sukses yaaa….

    1. Kalo buat visa berkunjung/wisata ke Turki, gampang banget malah Liza, ga harus ke kedubes, cukup apply online atau VoA aja kok. 🙂

  4. ooh begini toh ceritanya tante Alaika pindahan ke Depok 😀 dulu ku pernah kerja di seberang, di samping kedutaan Hungaria 😀
    terkait tempat tinggal, kenapa tidak coba cari tempat tinggal di Duren Tiga atau di Mampang Prapatan saja karena lebih dekat ke Kuningan? Kawasan Duren Tiga banyak tempat tinggal yang asri, aman dan harga cukup terjangkau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *