Antara Kau, Aku dan Mereka

Aha! Naga-naganya ini judul akan menghasilkan postingan curahan hati seorang Alaika Abdullah deh! Benarkah? 😀 Hm…, udah lama juga sih aku ga sempat curhat-curhatan di blog, baik di blog yang ini mau pun di My Virtual Corner yang keceh itu. Bukannya sok sibuk sih, tapi apa mau dikata, rutinitas harian sebagai konsekuensi dari pilihanku untuk terjun kembali ke dunia kerja, setelah vakum dan enjoying my freelance work and working at home woman, kini membuatku jadi jarang bisa bersentuhan dan bercengkrama ria seperti dulu dengan buku digital tercinta ini. Boro-boro mau curhat, untuk bisa nulis rutin/regularly aja, rasanya masih susah deh sekarang ini. Padahal, dulu, ketika masih sibuk di dunia humanity work, ada aja waktu yang berhasil aku curi untuk sekedar menuliskan satu dua paragraf untuk sekedar berbagi. Etapi, semenjak di embassy, ritme dan working environment emang kerasa beda pake bingits, ih!

Lalu, don’t you enjoy it, Al? Yaelah, so pasti aku enjoy donk. Namanya juga kerja, harus bisa dinikmati walaupun tidak bisa dicintai pake bingits kan? 😀 Dan…, apakah postingan ini akan bercerita tentang suka duka dunia kerja yang baru saja aku geluti ini? Eits, tentu tidak, Mantemans!

Ini adalah sebuah kisah yang sebenarnya sudah terjadi sebulan lalu, tepatnya pada hari Jumat, 31 Juli yang lalu. Di mana aku harus terbirit-birit mengejar bus MGI, setelah jam pulang kerja yang sedikit melar dibanding biasanya. Sehingga mau tak mau, kepulanganku malam itu ke Bandung, jadi molor dari biasanya dan otomatis ngefek langsung pada jam ketibaanku di Bandung city lah.

Kalo bukan karena aku sudah janji pada Intan dan Dijah serta Icha untuk pulang ke Bandung week end ini, rasanya aku malas deh untuk pulang ke sana. Bukan apa-apa sih, tapi rasa lelah yang tak hanya meluluhlantakkan tulang belulang akibat terlalu banyak berjalan kaki, bergelantungan di komuter juga busway, membuat staminaku tak seprima biasanya, apalagi di akhir Minggu.

Aku sih pengennya rehat saja di apartemen agar fit kembali di Senin nanti. Etapi, namanya sudah janji, juga demi anak dan keluarga, berlelah sedikit lagi mencapai Bandung tak mengapa lah. Sayangnya, aku tertidur lelap di dalam bus sehingga panggilan telefon dari Intan membuahkan ‘panggilan tak terjawab’ hingga 11 kali. Dan itu kusadari setelah my sporty watch menunjukkan angka 23.20 wib. Kuperhatikan keadaan untuk mengetahui sudah sampai di mana perjalanan Mr. MGI [bus yang aku tumpangi] seraya menjawab panggilan telefon dari Intan *berarti ini panggilan yang ke 12*.

“Halo, Nak. Maaf Umi ketiduran, …” Ealah belum selesai kalimatku, dari ujung sana terdengar suara keras Intan.

“Umi gimana sih? Ditelefon ga diangkat-angkat! Bikin orang kuatir aja! Dila sampai susah ini. Takut Umi kenapa-kenapa, takut bus yang Umi tumpangi kenapa-kenapa! Umi…”

Suara Intan yang meninggi jelas mengusir rasa kantuk dan memicu emosi di hatiku. Kupotong kalimatnya dengan suara tak kalah tinggi.

“Eh, Dila kira Umi main-main di bus? Umi lelah, Umi ngantuk, apa salah kalo Umi tertidur? Emangnya Umi di Jakarta cuma bermain-main?” Tak hanya itu, kalimatku nyerocos panjang tak tentu arah. Aku sendiri heran, darimana emosi ini tiba-tiba menggelegak. Kumatikan telefonku dengan dada mendidih.

Berani-beraninya memarahiku! Kukunci mulut dan bibirku [baca: manyun] hingga bus MGI memasuki terminal Leuwi Panjang. Malam telah larut, hampir tengah malam, dan aku masih butuh perjalanan setengah panjang untuk mencapai rumah. Pilihan yang paling tepat adalah memesan gojek. Semoga saja the gojek application will find me a driver ASAP [as soon as possible].

Alhamdulillahnya, aku segera mendapatkan gojek sehingga bisa langsung lanjutkan perjalanan. Hatiku sudah mulai mereda walo masih tertinggal sedikit uap panas yang menyelubungi. Kubujuk hati untuk mengerti, mungkin Intan saking paniknya tak bisa menghubungiku, jadi kuatir plus emosi jiwa begitu telefon yang ke sekian kalinya akhirnya terhubung. 🙂

Begitu sampai di rumah, aku sudah berhasil melenyapkan seluruh uap panas yang tersisa, tapi masih gengsi untuk menyebar senyuman. Kuketuk pintu pagar menggunakan gantungan kunci dari metal agar terdengar ke dalam rumah, dan…

Rumah menjadi gelap gulita, karena listrik tiba-tiba padam *atau dipadamkan? Intan muncul bertemankan cahaya dari henpon-nya, membuka pintu dan memelukku.

“Umi…. Dila kangeeeeen! Jangan marah-marah lah, Dila takut kehilangan Umi….” Semakin erat pelukannya, sembari kami melangkah masuk. Ruangan di dalam masih gelap. Dan…

Seorang wanita lain yang tak lain adalah Dijah, muncul dari dalam kamar dengan sesuatu di tangan. Sebuah talam berisi Birth Day Cake yang telah terpasang lilin bercahaya di atasnya. Keduanya spontan mengumandangkan happy birthday song. Aku langsung meleleh!

my BD cake
my sweet moment

Ya Allah, ini hari ulang tahunku, dan mereka sukses mengocok emosiku untuk sebuah surprise tahunan! Intan selalu saja berhasil menciptakan tema demi tema setiap tahunnya, tanpa aku mampu menebak skenerionya. Thanks, Nak! I love you so much, I do proud of you! And, thank you so much to you too, Dijah! I love you, too.

Kenangan Indah di Hari Ultah, 31 July 2015

Margonda Raya, 6 September 2015

2 comments on “Antara Kau, Aku dan Mereka

  1. Aku yang membacanua jadi meleleh juga neh. Terharu, sukses selalu ya mak Al.
    Benar-benar kejutan luar biasa ya mak, udah diaduk2 dan emosi hihi, eh akhirnya mengharukan.

  2. waaa selamat ulang tahun ya mbak Al, keren sekali dirimu Mbak Al kerja sampai soe kemudian tancap gas ke Bandung, saya gak kebayang deh gimana capenya, tapi alhamdulillah dapet semangat baru dari anak2 ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *