Lelah

gelantungan
Lelah bergelantungan

Yup, aku mulai lelah. Jika kemarin2 aku begitu antusias menyambut hari, memulai langkah pertama hingga seribu langkah setiap harinya, dari rumah ke kantor dan sebaliknya, maka, kini, hari ini, aku mulai lelah dan jenuh dengan ritme kehidupan yang seperti ini. Mengeluh? Boleh atuh aku mengeluh. Masak menulis di blog harus yang bermuatan motivasi melulu? Boleh juga donk curhat…, hehe. 

Well,  jika di bulan pertama hingga bulan ketiga kemarin aku begitu happy naik commuter line dan busway, maka kini? I am tired. Siapa yang ga mulai lelah dan jenuh coba. Adaaa aja kejadian tak mengenakkan dalam perjalanan menggunakan kereta ini. Yang komuternya tabrakan lah, yang komuternya kehabisan suplai arus listriklah. Hayyah!

Hah? Kehabisan suplai arus listrik? Beneran, Al? Iyaaa, beneran, lho! Aku aja sampai kaget, mana sedang ga enak badan, mata panas, posisi berdiri gelantungan di tali pegangan atas itu, eh belum lagi sempat masuk ke stasiun Tanjung Barat, si komuter ngadat. Berhenti, sekian lama, tanpa pemberitahuan. Barulah setelah 25 menit, kita-kita, para penumpang nih, diberitahu bahwa komuter belum bisa bergerak karena pasokan listrik bagian atasnya tidak lagi mencukupi. Hayyyah! Ampyuuun!

Air mataku mulai ngalir deh, bukan karena sedih, tapi karena suhu tubuh yang kian meninggi, plus posisi yang harus berdiri tegak tanpa bisa bersandar. Hadeuh. Ga enak banget deh kalo sedang sakit begini, harus nge-KRL segala. Tadinya sih udah pengen bawa Gliv ke kantor, tapi gegara bangun kesiangan, pastilah ga akan terkejar sampai tepat waktu, deh!

Para penumpang, khususnya di gerbong wanita, mulai krasak krusuk. Tau sendiri kan kalo para wanita mulai gelisah. Suara-suara mulai seperti dengungan lebah. 😀 Ada yang marah-marah, mengeluh, dan berbagai komplen lah. Aku sendiri? Ga sanggup berkata-kata. Pasrah banget, dan berusaha untuk tidak pingsan. Penyesalanku semakin dalam *halah, kayak lyric lagu apaaaa gitu?* Kenapa tadi itu ga istirahat di rumah aja, ga usah ngantor sekalian! Ini kalo sempat pingsan, piye?

Untungnya, wanita di depanku memegang minyak kayu putih. Posisinya juga gelantungan seperti aku. Kuberanikan diri untuk meminta sedikit minyak kayu putihnya, yang segera diberikannya dengan senang hati. Sekira 45 menit kemudian, barulah komuter mulai bergerak lagi. Ampyuuun, berdiri tegak, dalam suasana penuh sesak, tanpa kejelasan nasib, sungguh terlalu! bikin nelangsa dan pengen mewek. Serius! Kukuatkan tekad, besok pagi, harus bangun jauh lebih pagi agar bisa driving Gliv to office, deh! Kapok, eikeh, cyiiin! Sementara ini, nyerah dulu deh naik komuter and busway. Kaki ini sedang lelah untuk diajak melangkah, menaiki tangga/jembatan penyebrangan, berdiri di komuter, lanjut busway, yang total perjalanan lebih kurang 1,5 hingga dua jam. Ampyuuun. *Apa ini termasuk pengaruh faktor U, sehingga aku ga sekuat dulu lagi? Etapi, dulu-dulu, aku juga belum pernah menjajal perjalanan ke dan pulang kantor dengan cara ini… Di Aceh, Medan bahkan di Bandung, belum pernah ngerasain perjalanan yang seperti ini, cyin! 😀

Eniwei baswei, mungkin memang ada baiknya, aku menyiasati perjuangan mencari segenggam berlian penghidupan ini dengan silih berganti antara driving Gliv to Office dan berkomuter/busway ria. Jadi ga jenuh. Kalo Mantemans, pernahkah mengalami rasa jenuh seperti yang sedang aku alami ini? Apakah ini terjadi karena kondisiku yang sedang tidak sehat, ditambah pula oleh situasi tak mengenakkan seperti ini?

Sekedar sharing,

Al, Margonda Raya, 30 September 2015

2 comments on “Lelah

  1. Hehe, sabar ya kak. Emang kalo lagi kurang sehat bawaannya semua salah, yang bener jadi salah, yang salah ya jadi nambah.
    Kalo jenuh, sering banget kak, alternatifnya bikin banyak kegiatan, kalo kondisinya lagi stuck kek tu, alternatifnya ngajakin ngobrol si mbak2 kayu putih, shooting iklan bareng atau dubsmashan bareng semua penghuni gerbong, dijamin, ya dijamin akan dilempari ke luar gerbong, hahaha.

  2. waktu tempat kerjaku masih di seputaran Mampang Prapatan-Kuningan-Jalan Sudirman, ku pernah stress berat karena setiap hari harus arungi jalanan yang super macet.
    Semua serba salah, bawa kendaraan sendiri malahan jadinya darah tinggi ngamuk mulu gegara pengendara lain seenak gue, naik kendaraan umum sering emosi kalau pak sopir mendadak ngetem atau malah dioper kalau naik Kopaja-Metromini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *