Sebuah Lorong di Stasiun UI

Jalan Masuk ke Lorong Stasiun UI1

Hidup ini memang seperti nano-nano. Eits, masak sih belum kenal permen nano-nano? Yang rasanya asin asem manis ituh, lho! Etapi, masih kurang sih, nano2 kan ga ada rasa pahitnya, ya? Sementara di dalam kehidupan, tak hanya ada manis, asin dan asam, tapi pahit pun tak ketinggalan nimbrung menambah warna dan rasa.

Lalu, apa hubungannya dengan Lorong di Stasiun UI itu, Al? Ada hal unik atau istimewakah?

Hm…, bagi yang sudah setiap hari melewati dan lalu lalang di lorong ini, kemungkinan, sih, akan menganggapnya biasa saja. Tapi bagiku, lorong ini, yang sebenarnya termasuk kategori sempit, boleh banget jika dikatakan unik! Uniknya dari segi apa? Bukankah setiap hari yang lalu lalang mostly adalah orang-orang yang sama? Termasuk dirimu, Al? 

Iya juga, sih. Kebanyakan pengguna lorong ini, pastinya adalah mahasiswa/i yang kuliah di kampus UI, pekerja-pekerja yang akan berangkat ke kantornya menggunakan komuter dan berangkat dari atau ke stasiun UI. Selebihnya, adalah pengguna random yang kebetulan sedang ada keperluan melalui lorong ini.

Yang bikin aku menganggap lorong ini unik, sebenarnya adalah suasananya. Entah dari segi mana, melalui lorong kecil ini, membawa ingatanku ke sebuah tempat di yang aku lupa-lupa ingat. Lorong di dalam ingatanku itu, juga dipenuhi oleh pedagang-pedagang aneka rupa seperti ini, deh!

lorong Stasiun UI
Keramaian di lorong Stasiun UI

Tak hanya dipenuhi oleh lalu lalang orang yang hendak melalui lorong ini saja, tetapi lorong ini juga menjadi tujuan dari orang-orang yang ingin berbelanja buku, asesoris atau pernak-pernik. Tak hanya itu, fotokopi, print-out atau cetak buku, paper, atau mencari buku2 literatur dengan harga terjangkau, di sini, lho, tempatnya!

Selain itu, ingin bikin kaca mata baca, plus or minus, soft lense, di sini juga ada optik, lho! Pengen cetak mug, lencana, trophy, dan sejenisnya, juga available here! Duh, eikeh kok udah kayak sedang promosi aja, nih, 😀 Tapi beneran, lho. Aku aja, saat awal-awal tinggal di Margonda, dan mulai menggunakan lorong ini sebagai jalan untuk mencapai stasiun UI, hampir setiap hari mampir di aneka kedai kecil itu, ya sekedar beli kertas buku isi ulang lah, beli binder lah, beli stationary dan alat tulis baru, hingga ke beli hijab, pernah. 😀 Habis, harganya, sih! Terjangkau banget, ukuran kantong mahasiswa!

Selain benda-benda yang aku sebutin di atas, di lorong kecil ini, juga menjadi tempat bagi beberapa pedagang buah untuk berjualan. Dan buahnya, menurutku sih masih seger-seger dan bagus, cuma suka heran aja, kok harganya terjangkau banget? Untuk buah pir, misalnya, sudah di-wrapping berisi 3 atau 4 buah pir, dijual dengan harga 10 ribu rupiah. Untuk pepaya, biasanya untuk dua buah pepaya dihargai 15 ribu rupiah. Murah, ya? Dan sebagai penggemar kedua buah itu, aku jadi pelanggan tetap donk! 😀 Rasa buahnya gimana, Al? Enak, kok! Sama seperti buah pir yang dijual di mal. Mungkin di mal jadi mahal karena sudah kena biaya ini itu, lah, ya?

lorong stasiun UI
Para pedagang di Lorong Stasiun UI

 Oh ya, satu lagi yang paling aku suka lakukan saat pulang kerja dan melewati lorong ini, adalah membeli kelepon dari si Bapak yang terlihat pada foto kiri atas ini, nih, Mantemans! Selain keleponnya emang enak, harganya murah banget, juga aku sering terpanggil untuk turut melariskan dagangannya yang masih banyak tersisa. Ada iba di hati, setiap melihat ketekunan dan kesabarannya berjualan.

Lorong stasiun yang efektifnya hanya sekitar dua ratus meter ini, memang unik. Di dalam lebarnya yang sempit, dan jaraknya yang tak seberapa itu, tapi aneka dagangan yang digelar, sukses bikin hatiku turut berwarna. Belum lagi dua warung tegal yang sudah beroperasi sejak pagi, cocok banget sebagai tempat orang sarapan atau sekedar beli bekal untuk lunch di kantor nanti. And…, I did! Beli bekal untuk lunch, sementara untuk sarapannya, aku biasanya suka beli getuk campur, yang dijual oleh seorang ibu-ibu Javanese yang mangkal beberapa meter dari pintu masuk stasiun. 🙂

Ga suka getuk untuk sarapan? Tenang, masih ada penjual bubur ayam, seblak, mie ayam, dan aneka kulinary dengan harga anak kost, lho! Ajigile, padahal tempatnya sempit, lho! Tapi muat ajah! 😀

Terus apalagi yang unik, Al?

Para pengemis! Subject yang satu ini, tak pernah ketinggalan memang, ya? Pasti ada di setiap keramaian, memanfaatkan kesempatan untuk gelar tikar atau sekedar koran, plus anak bayi atau balita sebagai object penderita sekaligus penarik iba. 🙁

Sekedar sharing,

Al, Margonda Residence, 6 October 2015

8 thoughts on “Sebuah Lorong di Stasiun UI

  1. ini lorong legendaris, entah sudah berapa juta eks mahasiswa yang lewati lorong ini. jadi kangen juga lewati tempat ini, dulu ku sering nongkrong disini.
    harga buah terjangkau karena pedagang belinya langsung dari petani di Bogor-Citayam atau dari agen di Pasar Induk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *