My Virtual Friend, My Humble Mentor

Click here for the English Version

Ahmad Albar bilang dunia ini adalah panggung sandiwara. Aku bilang hidup ini penuh dengan lakon dan lika liku. Orang lain bilang hidup ini penuh dengan peruntungan dan ketidakmujuran. Yang lainnya lagi bilang bahwa hidup ini penuh warna, ada lagi yang bilang hidup ini susah ditebak. Dan aneka pernyataan lainnya tentang hidup dan kehidupan ini.

good planner
good planner

Yup, aku sepakat dengan semua pernyataan di atas. Hidup memang penuh misteri. Bahkan untuk sesuatu yang telah kita rencanakan dengan matang pun, tetap saja pelaksanaannya terkadang meleset dan bahkan gatot. Mengapa? Karena kita hanya bisa merencanakan, tapi pelaksanaannya tetap terpulang pada ijin yang Maha Kuasa. Yes. We are a good planner, but HE is the best planner. 

Bicara tentang kehidupan, di dalamnya tersimpan pula aneka rasa, mulai dari bahagia, gembira, duka lara dan air mata. Salah satu penyebab mengalirnya air mata selain karena bahagia, juga disebabkan oleh duka lara, baik karena gagalnya sebuah rencana, keinginan yang tidak terlaksana, atau malah karena kehilangan. Dan bicara tentang kehilangan, tentu semua dari kita pernah mengalaminya. Bener kan, Mantemans? Aku juga pernah banget bahkan sering sekali dihampiri oleh rasa yang satu ini. Kehilangan, selalu saja mampu bikin hati jadi galau. Setuju? Baik itu kehilangan kekasih hati [ini mah jelas bikin galau lah ya?], kehilangan benda kesayangan, kehilangan dompet, atau benda kesayangan lainnya.

Dan kali ini, aku ingin cerita tentang sebuah rasa kehilangan yang samar-samar selalu bikin kangen. Kehilangan seseorang yang sebenarnya hubungan kami tidaklah terlalu akrab secara nyata, karena untuk bertemu saja, sepanjang perkenalan kami selama 9 tahun, baru juga bertemu empat kali. Pertemanan dunia maya yang memang mewujud di dunia nyata, tapi bentuknya agak-agak abstrak, karena ya itu tadi. Ketemunya baru 4 kali, tapi tingkat kepercayaan yang terbina luar biasa.

Dia adalah seorang lelaki, etnis bermata sipit [you know lah], kita panggil saja Lucky. Orangnya sopan, dan kalo pun terkadang ngobrol tentang hal-hal yang dewasa, tetap dalam koridor saling menghargai dengan bahasa yang baik dan tidak vulgar. Perkenalanku dengannya melalui sebuah situs yang sempat booming sebelum facebook mengemuka. Nama situs itu adalah tagged [dot] com. Kami berkenalan di sana, dan dia langsung tertarik untuk berteman denganku karena aku anak Aceh, cewek, dan ada kesamaan background walo beda major/jurusan. Aku di Teknik Kimia, dia lulusan dari Teknik Elektro, tentunya dari Universitas yang berbeda. Singkat cerita, dia suka aja berteman denganku karena katanya sih aku anaknya nyambung kalo diajak diskusi. Kami akrab secara virtual, dan dia piawai urusan saham dan reksadana, dan menasehatiku untuk ikutan reksadana agar punya investasi/passive income. Tapi saat itu aku belum memutuskan untuk berinvestasi karena sedang keranjingan traveling bareng Intan, putriku ke negeri jiran. *gaya

Suatu hari, adikku yang juga punya ketertarikan soal saham chitchat denganku, dan tanpa sengaja tercetus olehku bahwa aku punya teman bernama Lucky, yang suka main saham juga. Lalu adikku memberikan sebuah link yang isinya sebuah website tentang analisa saham bagi pemula, yang gambar authornya adalah …. Lucky! Lebih kaget lagi saat adikku bilang bahwa Lucky ini adalah mentor saham, sering ngadain training tentang saham. ‘Ayo, Kak, pepet terus Lucky-nya, you may learn a lots from him!’ Kata adikku. Kaget dan surpraise donk, karena Lucky begitu humble, tak pernah cerita kalo dia adalah seorang trainer.

My Virtual FriendSingkat cerita, kami semakin akrab dan jadilah aku belajar saham secara online padanya. Dan baru ketemu dengannya secara nyata saat aku tugas [waktu itu aku masih kerja di Aceh] ke Jakarta. Ketemu untuk dijelaskan cara membaca candle stick dan ‘teman2nya’ itu, setelah terlebih dahulu dia kirimkan materi belajar via email. Aih baik banget ini, orang yak?  Kesan pertama ketemu doi gimana, Al? Di mana?

Hm, kesannya…? Orangnya tinggi, bermata sipit [iya lah, kan Chinese], seumuran deh kayaknya denganku, dan ramah serta humble. Kami bertemu di lobby hotel Sahid Jaya, dan kemudian pindah ke sebuah cafe American branded kaya wifi berinisial SB, sehingga kami bisa belajar sambil akses langsung ke software aplikasi saham via laptop. Beneran deh, aku langsung pusing melihat grafik-grafik yang tersaji di layar, dan dia tertawa ngakak. Etapi, kemudian dengan humble bilang gini, ‘Kamu pasti bisa mempelajarinya, Al, aku yakin banget, otak teknik kamu, pasti akan bisa nerima semua ini.’ Hm, benarkah? 

Sayangnya, walo sudah diajari dan mulai paham, aku tetap belum tertarik untuk buka akun dan terjun ke bursa efek ini, deh. Hingga akhirnya, setelah kontrak kerja di Aceh selesai, karena project UNDP di Aceh selesai dengan baik dan kantor tutup, maka aku pun hijrah ke Bekasi untuk pekerjaan lainnya. Yah, pekerjaan yang gajinya tidak lagi se ‘wah’ gaji di Aceh dulu. Barulah aku berfikir, bahwa passive income, melalui bursa efek layak diuji. Maka aku pun menghubungi Lucky untuk take action. 

Alhamdulillah, Lucky menyambut baik, membimbing dan bahkan memberikan advice akan saham apa yang sebaiknya aku ambil kala itu. Dan, Yes! Aku meraih laba yang lumayan banyak dan bikin nagih. Dan seperti biasa, walo aku sudah di Bekasi, komunikasi kami tetap saja via online. Hingga akhirnya, aku pindah ke Bandung, dan Intan mulai masuk President University, yang biayanya ‘ngeri’. 🙂

Suatu ketika, aku dihimpit kesulitan, karena biaya SPP Intan yang 3 kali setahun [tiga semester dalam setahun] sudah saatnya untuk dibayarkan lagi. Dan aku masih kekurangan dana sejumlah 3 juta rupiah. Maka aku berfikir untuk menjual saja sahamku yang sedang tersungkur. Iya, saham yang kubeli ini, ternyata sedang tidak mujur, ga banyak sih, hanya 2000 lembar, dan anjlok seanjlok2nya.

Aku sedang di dalam dilema kala itu, tak ada pilihan lain, berapapun harganya, aku harus melepaskan saham ini dan menggunakannya untuk tutupi kekurangan biaya kuliah Intan. Ealah, di tengah galau dan frustasi, sebuah request friend di FB muncul, dari seseorang bernama Lucky. Aku langsung menebak, pasti ini Lucky, my mentor. Langsung aku approve dan kami berteman. Segera dia menyapa di inbox.

‘Apa kabar, Al? Sehat kan?’ Yang langsung aku sambut histeris. “Ya ampun, Luck! Kemana ajaaaaa? Aku sedang stress. Aku mau jual saham A itu, butuh duit untuk bayar kuliah Intan nih. Tapi harganya masih tersungkur!’

Tanpa menjawab tanyaku, dia balas, ‘JANGAN DIJUAL DULU. RUGI! KAMU BUTUH BERAPA?’ capslock. 

‘Tiga juta aja kurangnya. Aku sedang ga kerja nih, baru aja selesai kontrak.’ Jawabku dengan icon sedih. 

‘Sebentar ya, INGAT, JANGAN JUAL DULU!.’ Dan dia menghilang tanpa kabar hingga malamnya muncul dengan sebuah kalimat. ‘Minta norek BCA kamu donk, Al. Temanku akan transfer ke kamu 3 juta, ya. Dia ada utang sama aku, dan akan bayar ke kamu.’ Dan….? Aku langsung melongo. Terpana. 

Ya Tuhan, inikah malaikat yang Engkau kirimkan kepadaku? ‘Tapi Luck, ntar aku bayarnya ke siapa? Ke kamu apa ke dia?’ Tanyaku yang langsung dibalas singkat olehnya.

‘Ga usah bayar. Pegang sahamnya itu, jangan jual sebelum aku bilang jual. Ok? Aku sign out dulu, mau antar mertua ke rumah adik ipar dulu, nih!’

Dan dia pun menghilang. Sampai hari ini. Tiba-tiba saja, detik ini, aku kangen sahabatku ini. Tuhan, di manakah dia kini? Adakah dia baik-baik saja? Luck, I missed you suddenly!

Tulisan ini diikutsertakan di dalam Giveaway Bareng Nfirmansyah.com dan Elisa-Blog.com

28 thoughts on “My Virtual Friend, My Humble Mentor

  1. Subhanallah mba, merinding bacanya, terharuuuu T.T
    Semoga sahabat mba itu sehat wal afiat ya, jarang2 ada orang sebaik itu…

    Ah, jadi inget pas zaman2nya friendster, aku juga punya sahabat virtual dan sekarang entah dimana rimbanya, huhu hiks…

    1. Iya… ternyata, di tengah ganasnya zaman, masih ada orang sebaik ini. Aq aja sering speechless kalo ingat ini, padahal alami sendiri. Nyata adanya.
      Smg Lucky baik2 aja yaa. 🙂

    1. Itu lah Mba, kami sepakat untuk tidak saling menyimpan kontak number. Nyesel juga ih! Orgnya emang baik banget, bisa dipercaya pake banget, pdhl baru 4 kali kopdar. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *