contest

Permainan Masa Kecil

Permainan Masa Kecil, hayyah, itu kan puluhan tahun lalu? Etapi, masih begitu lekat di hati dan bayangannya pun masih begitu lekat di pelupuk mata. Entah kenapa, jika disuruh bicara tentang masa kecil, berikut permainan-permainan yang pernah aku dan teman-teman mainkan di masa kecil, memang selalu mampu bikin hati happy, deh! Bikin ingatan melayang saat masih tinggal di kampung halaman, nun jauh di salah satu gampong [desa] di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh lon sayang. Yup, masa kanak-kanak, terutama pada generasi kuh, uhuk, sembunyiin KTP, emang kayaknya paling mengesankan, deh.

Permainan masa kecil
Foto masa kecil

Gimana enggak coba, Mantemans! Tinggal di desa, yang saat itu masih jauh dari modernisasi, tentulah kami tak mengenal permainan-permainan anak kota. Eh, btw, permainan anak kota di era tahun 70an apa, yak? Ga tau juga eikeh. Yang aku ingat, permainanku dan teman-teman sepulang sekolah adalah, banyak sekali! 🙂 Emang ada ya permainan bernama ‘banyak sekali’? Haha.

Well, saat itu, yang paling hits adalah bermain kasti, main patok lele, main engklek, main petak umpet yang kami anak Aceh menyebutnya meuen pet-pet, terus main kuaci, main masak-masakan, main akrobat [yang ini karena diajarkan untuk bisa salto, lho, di sekolah], cari belalang, main apalagi ya? Ah iya, main air di sungai sambil jumpalitan dari atas jembatan terjun ke dalam sungai. Nah, dari semua itu, yang paling aku sukai dan bikin adrenalin naik turun adalah main air ini, Mantemans! Selain ada rasa gimanaaa gitu saat terjun dari atas jembatan ke dalam sungainya, juga ada rasa gimanaa gitu jika TAK sampai ketahuan ibuku. Ya, ada rasa bangga jika sampai permainan usai, aku berhasil ‘tidak diketahui oleh ibuku’ telah mandi di sungai dan berjumpalitan seperti itu. 😀

Bicara tentang permainan masa kecil, hampir seluruh permainan memang kami lakukan secara lebih dari satu orang, alias teamwork. Jadi tingkat bersosialisasinya tinggi. Kebersamaan begitu terasa, dan bikin kita kompak, walo sering juga ujung-ujungnya diakhiri dengan es-ke-te-an alias marahan sejenak antar teman. 😀 Namanya juga anak kecil kan, yak? Etapi, jaman dulu itu, kalo es-ke-te-an tuh ga pake lama, tau? Sebentar juga udah baikan lagi, udah didatengin atau ngedatengin untuk ngajak main bareng lagi. Heheuw. 😀 O iya, selain bermain bareng, ada satu kegiatan yang setiap sore tuh aku lakuin dengan sepenuh hati, lho! Yaitu menyuapi kerbau tetangga sebelah. Haha. Eits, serius elu, Al? Yup! Iya donk! Pernah melakukannya? Hihi. Iyaaa, dan asyik, lho, bahkan aku menganggapnya sebagai permainan ringan sekaligus hobby setelah aneka permainan berat seharian tadi. Hah?! Hobby??

Mandi dan Berjumpalitan di Sungai

Adakah Mantemans yang suka bermain di sungai? Terjun bebas dari atas jembatan dengan aneka gaya dan berusaha mendarat cantik di permukaan air sungai? Kami melalukannya paling tidak setiap dua hari sekali, lho! Biasanya jika di sekolah [saat itu aku duduk di kelas 3 atau 4 SD deh] baru selesai pelajaran olahraga. Kan panas banget oleh keringat akibat olah raga yang kebetulan oleh Pak guru, diajarin lompat jauh yang ga tanggung-tanggung. 5 meja belajar disusun berjejer, dan kami disuruh mengambil ancang-ancang untuk bisa melompatinya dan mendarat cantik di bak pasir yang sudah tersedia di sebelah meja susunan terakhir.

Iya emang, olahraganya termasuk ekstrim sih, kalo sekarang aku fikir-fikir lagi. Etapi, saat itu, saat kanak-kanak, badan kita masih lentur dan melakukan itu gampil banget, lho! Semua anak mampu melakukannya dengan santai dan asyik. Berasa jadi pemain akrobat paling keren sedunia deh. Nah, saat mendarat di bak pasirnya itu, jangan heran deh jika pasir pun akan lengket di kepala, masuk ke kantong baju, rok atau celana sekolah. 😀

Nah, berbekal rasa gerah dan bau keringat itu lah, jadi alasan utama mengapa kami memilih untuk langsung terjun bebas dari jembatan dan mendarat cantik di atas permukaan air sungai, di mana sering digunakan oleh ibu-ibu untuk mencuci pakaian. Dan anehnya, hanya ibuku yang sangat keberatan jika anaknya mandi di sungai. Aku sempat nelongso sirik pada teman-teman lainnya, yang oleh ibunya dibiarkan saja terjun bebas dan berendam di dalam sungai sepuasnya. Pernah bahkan aku di setiap usai shalat Maghrib, berdoa agar Allah menggerakkan hati ibuku agar luluh dan mengijinkan anaknya ini untuk boleh mandi di sungai. Hehe, dasar doa anak kecil! Ternyata, sampai kami pindah ke Sigli [ibu kota kabupaten], doa itu tak pernah dikabulkan. 😀

Lalu, mandi di sungai itu emang ada manfaatnya, Al? Eits, anak kecil mana mikir manfaatnya, Mantemans? Yang penting kan happy! Haha. Etapi, kalo dipikir-pikir, permainan air di sungai alias mandi di sungai ini banyak juga manfaatnya, lho! Yang pertama adalah melatih anak agar piawai berenang. Setidaknya, walo gaya berenang tidak seperti anak kota, anak-anak di gampong kami, tuh, pada jago renang lho gegara sering mandi di sungai ini. Kedua, manfaatnya adalah melatih keberanian. Bayangin, dari atas jembatan bo’. Terjun bebas bahkan pake gayaan saat terhempas di atas permukaan sungai. Jika bisa salto dan berada pada posisi duduk bersila saat menyentuh permukaan air, maka itu udah keren pake banget, deh! Ketiga? Menyalurkan hobby, dan mengeratkan kebersamaan. Karena ga mungkin donk mandi di sungai seorang diri, mana asyik!

Jadi, kalo mau mandi di sungai, kita pasti janjian atau ngajak-ngajak dulu, jika pada setuju, baru deh meluncur ke tekape. Dan keempat, melatih kesetiaan. Maksudnya? Iya donk, melatih kesetiaan teman-temanku untuk tidak membocorkan pada ibuku bahwa aku mandi di sungai! Hehe. Walo, sering juga tuh, ibuku tiba-tiba sudah berdiri di atas jembatan, dengan berkacak pinggang pulak ituh. Dan aku? Cukup melihat tatapan matanya itu, aku langsung tau diri. Melipir ke pinggir sungai, sambar handuk kecil yang memang tersedia di dalam tas, lalu naik ke atas, mengikuti langkah ibuku yang bergerak cepat pulang ke rumah. Aku? Ngekor cantik bo’… 😀

Menyuapi Kerbau Tetangga Sebelah

Kerbau Aceh
Kerbau

Nah, ini sebenarnya bukan permainan sih, tapi aku menganggapnya sebagai permainan latih peran. *Gaya, anak kecil aja pake kata ‘latih peran’. Haha.

Jadi ceritanya, aku punya teman nih, namanya Balah, anak laki-laki. Balah ini tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Ibu tirinya itu galak banget! Balah dibebani pekerjaan yang seabrek-abrek. Aku sering iba melihatnya. Masih untungnya, Balah diijinkan untuk tetap bersekolah, sekelas denganku. Namun, Balah hampir tak pernah punya waktu untuk mengerjakan PR apalagi mengulang pelajaran yang diberikan di sekolah. Kasian banget deh pokoknya. Sepulang sekolah, tugasnya mencari rumput untuk kambing dan kerbau mereka. Sepulang dari situ, dia masih harus mencuci pakaian ayah dan ibu tiri serta adik-adik tirinya. Padahal usianya masih seusiaku, kelas 3 atau 4 SD gitu, lupa aku tepatnya. Nah, aku sering iba melihat temanku yang satu ini.

Maka, sore hari, setelah mandi dan rapi jali, aku selalu pamit pada ibuku untuk bantuin Balah. Anehnya ibuku kali ini ga keberatan, lho! Bukan, bukan bantuin Balah bikin pe-er sih, itu mah aku ga tertarik. Hehe. Yang sangat menarik minatku adalah menggantikan pekerjaan Balah saat menyuapi kerbaunya! Apah? Kerbau disuapin? Iya, lho. Jamankku kecil dulu, kerbau dan sapi yang biasa dipakai untuk membajak sawah, makannya disuapin, lho! Manja banget, yak? 😀

Suatu hari, aku melihat Balah sedang menyuapi kerbaunya sambil bercakap-cakap, alias berdialog. Aku melihatnya dari lantai dua rumahku, yang jika melihat ke bawah, bisa langsung menangkap aktivitas di bale2 dekat kandang kerbau Balah. Nah, penasaran, aku mendekat dan mencuri dengar. Ya ampun, ternyata Balah curhat akan nasib dan kerinduan terhadap almarhum ibunya pada si kerbau. Aku sampai mewek mendengarnya. Hiks…. jadilah aku bertekad untuk menggantikan Balah, menyuapi kerbaunya agar Balah punya kesempatan untuk mengerjakan pe-ernya. Dan happy-nya Balah luar biasa, saat kukatakan niatku. Maka sejak itu, setiap sore aku pun menggantikan pekerjaan Balah. Menyuapi kerbau yang kemudian aku beri nama Billy. 😀

Dan sejak itu, aku ikut-ikutan seperti Balah. Sambil menyuapi, Billy aku ajak ngobrol. Berdialog. Agar tak seperti monolog, maka aku mengubah suaraku untuk mewakili Billy, dan menggunakan suaraku sendiri untuk mewakili diriku sendiri. Honestly, I found something interesting acting like this, makanya aku sebut sebagai latihan peran.  Ga tanggung-tanggung, aku juga suka menuliskan cerita di buku tulis yang diberi Ayah, tentang imaginasi yang tercipta dari dialog-dialog itu. Mungkin dari situlah cikal bakal aku hobby menulis fiksi, ya, Mantemans? 😀

Well, jika bicara tentang permainan masa kecil, kayaknya ga akan pernah ada habisnya, sementara postingan ini telah terangkai sejumlah 1364 kata, lho! Bahaya ini kalo ga segera diakhiri, bisa-bisa dewan juri langsung tekan tombol close tak jadi menilainya! Hehe. Jadi… mending kita lanjut di lain waktu deh tentang asyiknya masa kanak-kanak, yaaa?

46 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *