Balada Upik Abu dari Ciganitri

Bagi orang Medan atau yang berasal dari Sumatera, istilah Upik Abu, langsung membawa ingatan dan bayangan ke sesosok anak perempuan yang tubuhnya penuh dengan jelaga, baju kotor, dan berpeluh. Wajahnya yang sebenarnya cantik, justru tertutup oleh jelaga dan keringat, karena Upik Abu ini, tiada pernah berhenti dari keharusan bekerja (layaknya budak).

Upik Abu, sebenarnya adalah “Cinderella”nya Indonesia, setali tiga uang dengan si Bawang Putih di kisah Bawang Merah – Bawang Putih. Hidup sebagai anak tiri yang harus menjadi babu bagi seorang ibu tiri dan seorang saudara tiri perempuan, yang selalu saja iri akan kecantikan dirinya.

Picture belongs to Canva Application, edited by Alaika Abdullah

Nah, di Medan, orang-orang sering banget mengistilahkan kalimat seperti ini, “Maaf, ya, saya mau jadi Upik Abu dulu, nih. Jadi ga bisa ke tempat kamu dulu.”

Atau, “Hayyah, menjelang hari raya ini, Nyonya terpaksa jadi Upik Abu dulu, ya!” Haha.

Dan berbagai istilah serupa, yang menggambarkan bahwa akan menjadi Upik Abu, maka si pemilik kalimat adalah akan beraktivitas sebagai pembantu yang akan tenggelam dalam rutinitas urusan bebersih rumah, memasak dan berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya, dalam level yang lumayan berat. Jadi memang bener

Upik Abu dari Ciganitri.

Dan…? Sesuai judul, “Upik Abu dari Ciganitri” jelas menggambarkan keadaan diriku yang sudah beberapa hari ini tenggelam dalam rutinitas berbenah dan memasak/bikin kue lebaran. Sesungguhnya (((sesungguhnya))), aku paling ga suka kegiatan ini. Hiks…

Menjadi Upik Abu adalah sesuatu yang selalu bikin hati gimanaaa, gitu! Tapi mau gimana lagi, aku dan Intan tak punya pilihan lain. My mom isĀ  a kinda perfectionist person. Yang semua-mua harus sempurna.

Apalagi di lebaran kali ini, adik-adikku akan ngumpul di sini, di Ciganitri – Bandung, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi, kebayang donk betapa heboh persiapan seorang perfectionist dalam memastikan everything looks great, demi menyambut para tamu yang adalah ananda, para mantu dan para cucu?

Yup! Tiada pilihan lain, kami pun menjadi dua Upik Abu, eh, sebenarnya sih, ibuku juga menjadi Upik Abu, karena beliau tuh type orang yang ga bisa diem. Terkadang kita berdua udah lelah, eh energi beliau kok masih keliatan full aja, sih? Hayyah, Omak…, break for a while, please…

Kalo kalian, di momen jelang lebaran kayak gini, menjadi Upik Abu juga kah? Cerita donk di kolom komentar.

Al, Bandung, 13 June 2018.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *