Gelak Tawa di hari nan Fitri

Image design using Canva Application.

Ramadhan Kareem baru saja berlalu, berganti dengan Syawal yang datang dengan wajah berseri. Siapa pun, tentu menyambutnya dengan bahagia yang selimuti hati, walau tetap tersembunyi sedih yang gugah sanubari. Ah, Ramadan, walau sedih melepasmu pergi, namun tentu kami tak mampu menahanmu untuk berlalu. Pergilah, Ram, semoga tahun depan ku masih bisa bertemu kamu lagi, ya! 🙁

Btw, pagi ini, sambil menanti para krucil yang berebutan kamar mandi, aku pengen share cerita kemarin, ah! Cerita gagal shalat Ied yang ternyata justru beri kebahagiaan tersendiri dan menjadi gelak tawa pertama di pagi nan fitri. Haha.

Emang ceritanya gimana, Al? Kok belum apa-apa udah ngakak, sih?

 

Shalat Idul Fitri yang hampir batal.

Jadi, tuh, lebaran kali ini beda jauh dari lebaran-lebaran kami di tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, adik-adik memutuskan untuk ‘mudik’ ke Bandung. Iya, donk, kan ayah dan ibu kini menetap di Bandung, masak keduanya yang harus mudik ke Aceh, ke rumah adik-adik? Ga seru donk.

Nah, rumah kami pun mendadak dipenuhi oleh suara para bocah. Yang, yah, walau pun hanya terdiri dari 5 bocah, tapi suaranya membahana layaknya kumpulan bocah se RT. 🙂 Belum lagi peralatan mereka, yang diangkut dari rumah masing-masing ke sini, sehingga ga heran jika kemudian ada tenda yang dipasang di ruang TV, dan para bocah malah main kemping-kempingan, atau kasur yang digelar di ruang tengah, sengaja agar kami semua bisa ngariung, mengenang masa kanak-kanak dahulu. Ah, seru pisan!

Amburadul tapi bikin hepi lihat anak-anak berlari sana sini.

 

Back to the topic! Jadi pagi itu, dari pagi kita udah bangun, donk. Yang di dapur (para emak), sibuk dengan persiapan ketupat and the genk, yang di bapak-bapak, kebagian tugas menyiapkan para bocah agar siap untuk shalat Ied. Nah, pada sibuk masing-masing, kami tak sadar jika waktu terus berpacu. Hingga kemudian, masih dalam keadaan yang sibuk dandan, si ayah berseru dengan tak sabar.

“Ayo, kalian kok lama kali? Apa mau ditinggal pulang oleh jamaah sebelum kita sampai lapangan?”

“Ya udah, yang laki-laki jalan duluan aja, ini kami udah siap, ntar nyusul.” Jawab ibu, mewakili kami semua. Aku dan Intan masih mematut diri di cermin. Saking ga sempatnya menggunakan hijab dengan cantik, maka aku memutuskan untuk langsung pake mukena aja deh dari rumah, toh lapangan tempat shalat juga dekat, tinggal jalan kaki saja.

Intan dan ibu juga ternyata mengikuti caraku, termasuk adik-adik ipar. Kami semua bermukena, dan bersiap meninggalkan rumah.

Etapi, ya ampun! Langkah terhenti, karena para krucil yang tadi ikutan ayah mereka yang duluan ke lapangan, kok malah sudah berlari pulang. Di susul oleh ayah dan adik-adikku.

“Pake celak yang tebal lagi, ukir sampai kaku. Biar lebih cepat. Gara-gara kalian, kami pun udah telat!” Gerutu ayahku, disambut oleh kami dengan pandangan terpana. Melongo, lalu kemudian tawaku pecah membahana, disusul oleh Intan dan yang lainnya.

Hahah, ya ampun, ternyata shalat Ied sudah usai, saat ayah dan adik-adik serta para krucil sampai lapangan. Hahaha. Ayah masih menggerutu, tapi sudah mulai meledek kami, diimbuh pula oleh adik-adikku. Haha.

Kami pun tergelak bersama.

Intan langsung bilang, “Abuchik, kita shalat Ied sendiri di rumah boleh kan?”

Dan tanya ini langsung diangguk ayah, dan dieksekusi. Sajadah-sajadah digelar di ruang tengah, dan kami pun shalat Ied berjamaah. Selesai shalat, Ayah memberi ceramah (singkat) sebagai syarat sah shalat Ied.

Ah, Ayah, we are so proud to have you! Kami bangga sama Ayah. Sehat terus dan tetap jadi imam kami, ya, Yah. We love you to the most! As always!

Ah, sungguh sebuah kebahagiaan tersendiri. Mungkin ini rencana Allah, untuk memperlihatkan kepada kami, anak-anak ayah, bahwa lelaki sepuh yang kami panggil Ayah ini, masih sigap dan tetap menjadi imam bagi keluarganya.

Alhamdulillah, ya Allah. Sehatkan ayah, ibu, dan kami semua, agar bisa berkumpul kembali tahun depan, di sini, atau di mana pun dalam kebersamaan dan bahagia. Aamiin.

Kalo kalian, punya cerita menarik apa nih, di hari nan fitri ini, Mantemans? Share donk di kolom komentar!

Oya, minal aizin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin, ya! Selamat merayakan hari raya idul fitri! Yeaay!!

Al, Bandung, 16 June 2018

One comment on “Gelak Tawa di hari nan Fitri

  1. Kalau saya kemarin bawa anak buat salat ied, mbak. Eh tahunya pas orang mulai salat dia nangis. Udah digendong masih nangis sampai salat selesai. Mana saya salat di dalam pula. Jadi nggak enak sama jamaah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *