What should I write on Steemit?

Bukan sekali dua pertanyaan seperti ini mendarat di telinga atau terbaca di mata, karena ditanyakan via whatsapp chat, atau pun aneka aplikasi messenger lainnya.

Apa yang harus saya tulis di steemit? Saya bukan penulis, dan saya mulai bosan!

Pasti kalian juga pernah atau malah sering juga mendapatkan pertanyaan serupa, dari para steemian newbie? Terlihat jelas jika semangat yang tadinya begitu berapi-api, mulai redup dan bahkan banyak yang padam. Hal ini bukanlah hal yang mustahil, jika niat awal mencemplungkan diri ke steemit adalah untuk mendapatkan reward melalui upvote.

Begitu postingan tayang, maka yang dilakukan adalah menanti, menanti upvote. Dan jika tak ada upvote yang mendarat di postingan, maka wajah memerah, hati marah, semangat pun kandas. Upaya lain yang dilakukan adalah menjapri orang-orang tertentu, sekedar mengantar link, tanpa se kalimat sapaan pun. Hayyah. Lalu, jika orang tersebut tak meresponse, maka, ‘tuduhan’ bahwa si orang tersebut adalah sombong dan pelit vote pun dipatri di hati.

Begitu kah etikanya? Bukankah untuk menyampaikan suatu maksud, kita biasanya memulainya dengan salam? Dilanjut dengan satu dua kalimat sapaan sebagai permulaan, baru kemudian masuk ke dalam inti/tujuan percakapan? Ga ujug-ujug kasih link. Yang terima link pun langsung males. Ini orang ga ada sopan-sopannya ya? ‘Apa elu kira gue digaji untuk memberikan vote?’ Pasti kalimat ini mau ga mau akan muncul juga di hati orang yang dititip link itu kan?

Image designed using Canva Apps by @alaikaabdullah

Padahal…, mana ada sih sebuah panen raya yang instant di dunia ini? Untuk mencapai yang namanya panen, tentu seseorang harus memulai prosesnya step by step, toh? Mulai dari pembersihan lahan/sawah, membajaknya, menyemai benih, menanam, memupuk dan seterusnya, hingga kemudian bisa sampai ke tahap panen.

Tak jarang, tanaman yang sebenarnya begitu dirawat dan dipupuk dengan cara telaten saja pun, bisa menuai hasil yang jauh dari harapan. Apalagi jika kita masih sangat kurang upayanya, toh? Jadi semuanya memang butuh upaya, usaha.

Well, back to the topic. What should I write on Steemit?

Sebenarnya, bukanlah hal yang muluk-muluk yang harus dibagikan di halaman steemit ini. Bahkan kita boleh menorehkan cerita-cerita sederhana menyangkut keseharian kita. Bisa saja, menurut kita, yang kita tuliskan itu hanyalah sesuatu yang kecil nilainya, sementara di mata orang lain, justru tulisan kita ini begitu menginspirasinya, bahkan tak jarang, justru menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapinya.Percaya, deh!

Ide ada di mana-mana, bahkan di sebuah toilet!

Aku pernah dengan terburu-buru melipir ke sebuah toilet, di sebuah tempat sajian fast food yang tentu tak perlu lah aku sebutin namanya. Tempat ini, tak pernah-pernahnya membiarkan toiletnya terpuruk penuh tissue dan basah dengan air yang berceceran membasahi lantai.

Tentu aku urung donk menggunakan toiletnya, dan melaporkannya ke salah satu petugas yang ada di situ, tapi tak digubris, mungkin karena memang saat itu sedang rame banget.

Lalu aku ke managernya, dan memberi info bahwa toilet mereka saat ini kondisinya sedang mengenaskan. Ada baiknya segera diatasi, sebelum customer pada komplen atau malah tak komplen tapi memajang fotonya di sosmed mereka.

Dan, si manager langsung gercep (gerak cepat), setelah tentu saja mengucapkan terima kasih. Dan…, kisah ini pun menjadi sebuah artikel di blog aku, karena saat itu ga punya ide lain untuk ditulis. Lumayan kan? Dan aku yakin, ide-ide sederhana yang dikemas dengan menarik, tentu akan menjadi bacaan yang menyenangkan atau sekedar hiburan bagi pembaca kita.

Baca tulisan tentang toilet itu di sini. http://www.alaikaabdullah.com/2013/09/jorok-tak-berbudaya.html

Bahan tulisan itu bisa berasal dari mana dan apa saja.

Bahkan sehelai daun kering pun, bisa menjadi sebuah puisi dan bahkan dikembangkan menjadi tulisan, loh! Baca deh! http://www.alaikaabdullah.com/2015/04/daun-kering.html

One of my dry leave photo collection

Kamu sih enak, Al, karena kamu emang hobi nulis. Nah, kami? Ga semudah itu!

Yup, memang sih. Tak semua orang diberi bakat/kemudahan dalam mengembangkan ide-ide ke dalam tulisan. Dan tau kah kalian, bahwa sesungguhnya steemit itu bukan hanya untuk menampung konten berupa tulisan? Steemit itu adalah tempat steemian berkontribusi konten. Dan konten tak cuma berupa tulisan, namun bisa berupa foto, video, atau apa pun karya positif yang ingin kalian bagikan di halamannya. Nanti, di postingan berikutnya, aku akan coba tuliskan tentang bisa ngapain aja kita di steemit ini, ya!

Untuk kali ini, aku mau fokus ke menulis dulu aja. Dan percaya deh, temans, kita tuh ga harus menulis seindah, sekeren, secerdas Bang @rismanrachman, misalnya, atau sebagus tulisannya Mba @mariska.lubis, atau sekaliber tulisannya duo kurator @aiqabrago dan @levycore lah!

Menulislah dengan gayamu sendiri. Jangan kecil hati jika hasil pertama, kedua hingga ke sepuluh terlihat biasa saja. Berlatihlah terus, perbanyak kosa kata, perbanyak pengetahuan tentang bagaimana memperindah gambar-gambarmu, dan sering pula membaca tulisan-tulisan orang lain untuk dapat inspirasinya. Percaya sama aku, tulisan-tulisanmu kelak, akan punya ciri khasmu sendiri, yang tentunya akan disenangi oleh pembacamu!

Lalu untuk dapatkan upvote?

Berkunjunglah ke tulisan-tulisan orang lain, baca dengan sungguh-sungguh, dan tinggalkan jejak berupa komen yang relevan dengan tulisannya. Jangan cuma bisa bilang, “tulisannya bagus, sudah saya upvote ya, vote balik donk!” Yakin deh, lambat laun, kamu akan digelar sebagai spammer kalo seperti ini. 🙂

Selain itu, rajinlah bergabung di komunitas-komunitas steemit, jangan hanya di WA, tapi di discord sehingga kita bisa terhubung dengan steemians luar negeri, asyik kan, bisa nambah banyak teman? 🙂

Wah, sudah 857 kata aja nih, segitu dulu tips dari aku, ya, semoga sedikit mencerahkan. Sampai ketemu lagi di postingan berikutnya, ya!

 

 

2 comments on “What should I write on Steemit?

  1. mba Al selalu keren deh dengan ide-ide sederhana namun penuh emosi untuk menyelesaikan tulisan tersebut. Yah, aku juga kadang begitu sih mba, kalau lagi mau nulis bisa betah nulis hingga lupa waktu, namun ada juga sih masa-masa kemalasan haha.

  2. Intinya semacam apa yang kita tanam kita tuai juga ya mbak… Harus berjuang dari nol, menghargai karya orang lain juga. Timbal balik dari itu semua pasti ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *