Hidup adalah Pilihan

Hidup adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan! Pasti sering donk mendengar kalimat ini didengungkan? Dan reaksimu? Kalo aku sih, menurutku hidup ini memang pilihan. Bahwa di dalam kehidupan ini, kita harus memilih mau bagaimana.

Iya, sih, banyak juga yang berkeras, bilang bahwa hidup juga dipengaruhi oleh nasib. Namun, manusia juga diwajibkan untuk berjuang memperbaiki nasib dan ga boleh pasrah dengan begitu saja?

Adalah kita sendiri yang harus memutuskan, apakah kita akan memilih diam terpuruk tanpa berusaha untuk bangkit, karena merasa ini lah nasib. Mau apa lagi, nasibku sudah begini?
Atau justru bangkit perlahan, mengumpulkan kekuatan tubuh dan pikiran, untuk lanjut berjuang menegakkan keadilan memperbaiki keadaan.

Tak Mudah Mengembalikan Kepercayaan Diri yang Ambruk Menghilang.

Bicara memang gampang! It is easy to say but it is difficult to do.

“Coba kalo kamu yang ngalami, Al, pasti ga akan selincah itu bicaramu!”

Memang. Ini adalah situasi yang sulit. Kehilangan kepercayaan diri, akibat beban kehidupan yang menghimpit dan sulit untuk dilawan, apa lagi untuk dikalahkan, aseli bikin kita tak mampu bahkan untuk bernapas perlahan. Rasanya nyeseeeek, banget!

Boro-boro untuk berdiri menantang dan berteriak garang, untuk sekedar menyapa dan tersenyum dikulum saja pun, kita sudah tak lagi punya kemampuan apalagi kekuatan. Hidup ini serasa gelap. Bagaikan tersudut di ruang yang sempit. Cakrawala menyempit, pikiran kejepit dan hati sungguh sakit!

Tuhan, bolehkah kuakhiri saja hidup ini?

Ops! Jika kalimat ini sudah mulai mengawang-awang, melambai-lambai dan menggoda iman, maka, hidup bukan lagi perjuangan melainkan sebuah pengorbanan yang sia-sia.

Ayo, pasti ada yang pernah mengalami situasi yang seperti ini kan? Dan rasanya, sungguh, beneran bikin hidup tak lagi punya harapan. Bahkan andaikan diberi perpanjangan masa kehidupan pun, tapi dengan nasib yang seburuk (yang sedang dihadapi saat itu), tentu banyak yang akan menolaknya.

“Jangan, Tuhan, ku tak ingin hidup lagi. Cukup sudah, ijinkan aku pulang.”

 

 

Pentingnya Dukungan dari Orang-orang Terdekat.

Pasti dari sekian yang baca tulisan ini, tentu ada yang sampai pada titik ini. Titik terendah di mana kepercayaan diri lenyap tak berbekas, dan inginnya menyudahi saja bab kehidupan ini. Dan…?

Dan…, di sinilah dukungan orang terdekat, ayah ibu, suami/istri, anak-anak, sahabat dan kerabat sangatlah berperan. Di sinilah ‘suntikan’ semangat untuk membesarkan hati dan jiwanya sungguh diperlukan. Ibarat orang yang terpuruk di dalam kotak, the one in the box¬†ini tak akan mampu melihat keadaan yang sesungguhnya lagi, konon pula membuat rencana sebagai jalan keluarnya.

Dia harus dibantu! Dibukakan mata hatinya, bahwa hidup masih menyisakan beberapa pilihan baik yang mungkin untuk diraih.

The ones outside of the box, yaitu orang-orang terdekat, menjadi sangat penting dan berperan! Memberinya dukungan dan perhatian, bahwa dirinya tak sendiri, ada orang terdekatnya yang peduli, yang akan menuntun dan membantunya untuk mampu melihat cercah cahaya, dan kembali berjalan lurus tepat sasaran. Dukungan ini, tentu akan sangat membantu langkah yang terseok itu, akan (walau secara perlahan) teguh dan kokoh untuk kembali melangkah menuju sasaran.

So, are you ready? Siap kah kalian menjadi lentera?

Al, Bandung, 18 July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *