Nias Island (part 1) – Kisah Kita Bermula di Sini

Suatu Ketika di Tahun 2006,

Ini cerita masa muda, mungkin sekitar usia 35-an. Sebuah kisah penuh kenangan saat bertugas ke sebuah pulau, nun jauh di luar daratan Sumatera Utara. Pulau ini, dulunya begitu ditakuti, karena orang-orangnya/penduduknya disinyalir teramat kental akan praktek magic alias guna-guna.

Entah iya, entah tidak, tapi desas-desusnya memang demikian, dan selaku orang yang lama menetap di kota Medan dan berkecimpung dengan masyarakat kota ini, desas-desus itu tak lagi menjadi sekedar bisik-bisik tetangga, karena diakui, pada prakteknya, memang demikian. Bahwa sebahagian besar penduduk daerah ini, melakukannya. Aih, serem amat. Karenanya, aku pun tak pernah punya keinginan untuk menyambangi pulau ini. Untuk apa?

Bertugas ke Pulau Nias.

Hayyah. Siapa yang menyangka jika kemudian aku justru tak punya pilihan lain selain manut dan berbesar hati untuk menapakkan kaki di daratan pulau yang dulunya begitu terisolir ini. Tekad hati yang tadinya begitu kuat untuk meniadakan Nias dari destinasi wilayah yang ingin aku kunjungi, justru memanggilku tanpa ampun. Titah Pak Boss yang memintaku dan Ratna (kolegaku) untuk masuk dalam tim Project Design sebuah project Community Health, membawaku ke pulau ini, tepatnya di daerah Kabupaten Nias Selatan.

Aku dan Ratna (dua orang Indonesia) ditunjuk kantorku untuk mendampingi Kecia dan Jenny (dua bule America), yang dihire kantorku untuk mendesign project kesehatan masyarakat, yang rencananya akan kami laksanakan di kepulauan Nias. Setelah berembug berdasarkan data yang ada, kami akhirnya memang memlih untuk melaksanakan project tersebut nantinya di Nias Selatan. Namun, untuk memastikan sebuah program tepat sasaran, tentunya sebuah need assessment haruslah dilakukan, agar project yang kami design itu benar-benar tepat sasaran (sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat). Karenanya, kami ditugaskan untuk melakukan need assessment terlebih dahulu, guna mendisain proyeknya.

Diskusi malam hari, tentang hasil Need Assessment yang dilakukan pada siang harinya. Image belongs to myself, taken by Kecia.

Mengapa memilih Nias Selatan? 

Melipir ke Kabupaten Nias Selatan, yang jauh lebih terisolir, adalah pilihan yang tepat, mengingat di Kota Gunungsitoli sendiri (masa itu) telah dipenuhi oleh banyak sekali NGO (international). Masyakarat Nias Selatan, tentu juga membutuhkan perhatian dan bantuan, sementara banyak NGO yang telah terlebih dahulu masuk ke pulau ini, memilih wilayah yang secara statistik dan kehidupan, jauh lebih mudah dibandingkan dengan kabupaten yang satu ini. Oya, masa itu, belum ada pemekaran wilayah, jadi hanya ada satu Kota (Gunungsitoli) dan satu Kabupaten Nias Selatan.

Nias Itu….

Nias itu…. serem! Meluapkan rasa was-was di hatiku dan Ratna, karena sebagai orang Indonesia, kami telah mendengar banyak tentang pulau ini. Tentang energi negatifnya, tentang praktek perdukunannya. Bahkan ibuku, saat mengetahui bahwa aku akan bertugas di NIas selama kurang lebih tiga mingguan, sempat kaget dan merasa berat melepaskan. Jelas, kekuatiran menggelayut di hatiku dan Ratna, dan kabar ini sampai juga ke telinga Jenny dan Kecia. Mereka percaya? Baik Jenny dan Kecia, yang memang sering bertugas ke negara-negara yang praktek perdukunannya masih kental, semisal Afrika, Nepal, dan lainnya tentu percaya dan turut was-was. Namun ada rasa penasaran dan excited di hati kami berempat, untuk datang dan bertugas di sana, sih. Pengen aja mengetahui kenyataan yang sebenarnya!

Dan…? 

Dan, ya ampun! NIas is so exotic! Nias, terutama Nias Selatannya begitu mempesona! Terutama daerah Sorake Beach-nya. Merupakan syurga bagi para peselancar. Tak heran jika banyak sekali bule yang tinggal di sekitar pantai ini (banyak penginapan, mulai yang murah hingga yang mahal dan nyaman, ada di sini), menikmati ombaknya yang aduhai untuk berselancar. Ah, Nias, terutama Nias Selatan ini, begitu mengagumkan!

Menikmati sore hari dengan berjalan-jalan ke bibir pantai yang berkarang. Sebenarnya ini bukan pantai, namun lautan yang oleh tsunami, airnya surut hingga sekian ratus meter, sehigga menjadi landasan batu karang. Terletak tepat di belakang cottage tempat kami menginap. Image belongs to myself, taken by Kecia.

 Image belongs to myself, taken by Kecia.

Sorake Beach Hotel 

Matahari sore menyambut pendaratan kami di Binaka Airport, Gunungsitoli sore itu. Tak terlalu panas. Kami berempat menjejak tano niha (sebutan untuk Tanah NIas) dengan hati excited dan sedikit was-was. Tapi baik aku dan Ratna, Bismillah saja, sih. Dan kuyakin, baik Kecia mau pun Jenny, tentu ber-positive thinking, sebagaimana halnya kami berdua.

Kami dijemput oleh sebuah mobil rental, yang telah di-arrange oleh kantorku di Banda Aceh. Seorang anak muda Nias, menyambut kami dengan santun, memegang selembar kertas bertuliskan Medical Team International, di tangannya. Aha, ini dia. 

Anak muda bernama Hengki ini, membawa kami langsung ke Sorake Beach Hotel, sebuah hotel ternama kala itu, yang barusan aku googling, sudah tak lagi tercantum lagi di rumah si Mbah. Apa ganti nama? Entah lah. Yang masih lekat di ingatanku, hotel ini berbentuk cottage, di mana kami berempat tidur di dalam satu cottage berisi dua kamar nan nyaman. Aku bersama Ratna (sesama muslim), Kecia dan Jenny, sesama bule. Sip oke sip! Kami sungguh menikmati keberadaan kami di tanah yang belum pernah kami injak sebelumnya itu, dan segala rumor tentangnya itu, lenyap sejenak dari ingatan.

Bersama Kecia, Ratna dan dua pemuda Nias yang beratraksi lompat batu.
 Image belongs to myself, taken by Kecia.

Ah, daerah yang santer oleh desas-desus itu, ternyata sungguh menyenangkan! Aku dan Ratna menarik pembelajaran, jangan terkecoh oleh desas-desus!

Lalu apakah desas-desus itu tak benar? Nantikan cerita selanjutnya pada artikel berikutnya, ya! Dijamin bikin was-was tapi seru!

Al, Bandung, 27 Juli 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *