Take a Break, Do Not Force Yourself.

Yup. Pasti pernah donk diserbu rasa lelah luar dalam? Lelah jiwa dan raga? Tenang, masih normal kok as a human being. Kita tentu butuh break. Butuh istirahat. Mesin saja, butuh dihentikan sejenak untuk diservice, dirawat dengan baik agar kinerjanya tetap mumpuni. Apalagi kita, manusia. Betul?

Bekerja non-stop sama saja dengan menyiksa diri, dan bikin hasil kerjaan tak lagi optimal. Karenanya, kala lelah melanda, jangan sungkan untuk melipir sejenak. Beri tubuh kita waktu untuk rehat, walau dua tiga kejap. Jiaaah, awal paragraf yang langsung berupa wejangan, yak? Haha, boleh donk sok bijak? 🙂

Tumben nih, Al, baru mulai posting udah dimulai dengan nasehat bijak! 

Hm, sebenarnya artikel ini justru dimulai dari ketiadaan ide, loh! Lalu, mulai lah aku ngubek-ngubek folder foto, dan menemukan foto ini, nih! Sebuah foto saat memenuhi undangan Tokopedia, bersama beberapa teman blogger. Kami diundang ke kantor mereka, yang ya ampuuun, enak banget! Ga terlihat seperti kantor. Lihat aja, ayunan keren ini, tergeletak dengan indah di dalam ruangan kantor mereka dan mengundang banget kan?

Ah, konsep mereka bikin jatuh hati, deh! Para staf diberi keleluasaan untuk bebas berkreasi, tapi bertanggung jawab. Jadi diberi kepercayaan untuk bekerja gimana enaknya saja, tapi KPI tercapai. Ah, aku juga mau banget deh punya kantor yang seperti ini.

Let’s have a break. Sit, enjoy, breath happily. Picture belongs to Alaika Abdullah

Back to the topic. Bicara tentang rehat atau break time. Tak hanya saat bekerja kita butuh break. Bahkan berfikir pun, butuh masa istirahat agar isi kepala tidak mendidih dan menguap, atau malah membeku. Sepakat?

Pasti pernah donk ngerasain, suatu kondisi di mana tubuh rasanya benar-benar tak berdaya, namun list things to do masih berjejal untuk dikerjakan? Dan tanpa disadari, menatap list ini saja, sudah bikin tubuh makin remuk, pikiran makin suntuk.

Aku sendiri, sering juga mengalami hal ini, dan solusi terbaik menurutku adalah, break. Rehat sejenak. Tak perlu memaksa pikiran untuk semakin terbeban. Bahkan menurut pengalamanku, ada baiknya kita mencoba menikmati saja kesemrawutan ini sejenak. Jangan dibantah, bujuklah logika untuk menerima kesemwarutan ini, dengan mengajak rasa untuk juga bekerjasama.

“Oke, logika, dan kamu rasa. Yuk, kita nikmati saja dulu situasi ini. Duduk manis, tarik napas, nikmati, dan nyantai dulu. Tak perlu panik, justru kepanikan akan membuat keadaan semakin amburadul. Jika kita masih bisa bertemu dengan kesemrawutan seperti ini, berarti kita masih normal.”

Tinggal bagaimana menyikapinya saja. Yup, tinggal bagaimana kita mengelola situasi ini saja. Kalo aku, lagi dan lagi, cuma mau bilang, istirahat lah sejenak. Take a break for a while, take a deep breathe, enjoy!

Kalo kamu, jika berhadapan dengan situasi ini, ngapain aja, temans? Share yuk di kolom komentar. 🙂

Al, Bandung, 2 July 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *