Hati-hati Mendengar Curhatan Orang, loh!

Yup, hati-hati mendengar curhatan orang, loh!

Lah, ini maksudnya apa, Al? Masak ga boleh mendengarkan curhatan orang lain. Kita aja, kalo sedang hectic, stress atau lagi galau, suka curhat, masak mendengarkan curhatan orang lain ga boleh? Hayo, pasti langsung bakalan ngomong gitu kan membaca judul tulisanku kali ini? Hehe. Eits, tenang dulu, kita bahas secara lebih rinci, yuk!

Curhatan itu memuat aura negatif.

Ah, yang bener, Al!

Memang, sih. Tentu kita tak bisa serta merta menolak orang yang ingin menumpahkan/curhat uneg-unegnya ke kita kan? Apalagi jika orang itu adalah saudara kita, atau sahabat tersayang, yang memang sedang butuh tempat untuk mencurahkan isi hati. Dan biasanya, seseorang akan butuh tempat curhat itu, di saat mereka sedang berada pada titik di mana kegalauannya, kesedihannya, kemarahannya, atau penderitaannya tak lagi terbendung oleh hati sanubari mereka. Dengan kata lain, di saat mereka tak sanggup lagi menahan beban yang mereka rasakan.

Dan biasanya pula, mereka tidaklah secara utama mencari solusi dari kita, namun hanya butuh tempat untuk menumpahkan uneg-uneg yang terasa begitu memenuhi kepala. Mereka hanya butuh didengarkan! Begitu kan? Lalu, betapa kejamnya kita, jika justru lari dan tak sudi mendengarkan curahan hati mereka?

Lagi pula, toh selama ini, setelah mendengarkan seseorang curhat alias menumpahkan uneg-unegnya, biasanya kita juga ga akan kenapa-kenapa kan? Terus yang dimaksud terpapar energi negatif itu yang bagaimana?

Efek Negatif Dari Mendengarkan Curhatan.

Pernah enggak, mantemans, di saat kita sedang mendengarkan curhatan seorang teman dekat, katakanlah tentang rasa sakti hatinya karena dibohongi, atau dikhianati oleh seseorang, atau ditipu oleh temannya, maka tanpa sadar, emosi kita juga ikut hanyut terbawa luapan emosinya dia?

Yup, tanpa sadar, emosi kita turut terpancing. Juga, saat seorang teman mencurahkan kesedihannya yang membiru, maka hati dan perasaan kita pun jadi ikut larut mengharu biru. Lalu pikiran kita terpaku dan mencoba memikirkan/mencoba mencari solusi. Pikiran kita berputar, berpikir keras mencari cara, mencoba untuk memberikan jalan keluar yang paling baik bagi si teman tadi.

Begitu juga kala yang dicurhati adalah tentang rasa marahnya terhadap seseorang, maka tanpa sadar, hati kita juga ikut larut di dalamnya, dan hanyut serta terpancing pula untuk turut marah, bahkan mencari solusi untuk kita tawarkan bagi si teman, agar amarah itu bisa tersalurkan dan terbalaskan!

Hal-hal seperti ini lah yang dimaksud dengan energi negatif. Sebuah energi yang lahir sebagai efek dari larutnya perasaan kita terhadap penderitaan/kegalauan si teman yang curhat itu. Sebagai manusia yang penyayang, tentu tanpa sadar, alam bawah sadar kita berpikir keras, bagaimana cara membantu si teman itu.

Alam bawah sadar ini akan terus bekerja, mengirimkan sinyal ke pikiran kita, untuk berpikir keras mencari solusi. Yang tentunya ini tak akan baik, jika berlangsung secara berkepanjangan. Iya kalo kita mampu mencari solusi, namun jika tidak, alam bawah sadar akan terus beraksi, memerintahkan pikiran untuk mencari jawabannya. Dan ini jelas ga baik bukan? Akan menyita waktu kita, akan membuat emosi kita turut tak stabil, dan yang pasti akan membuat pikiran kita turut lelah.

Proteksi Diri Sebelum Mendengar Curhatan.

Karena kita tak mungkin menolak sahabat atau saudara yang ingin curhat, maka ada cara lain yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir efek negatif dari curhat ini, mantemans!

Proteksi diri! Iya, tindakan ini merupakan upaya dari dalam diri kita, untuk melindungi diri agar tidak terkena imbasnya. Gimana caranya? Caranya cukup mudah, sebenarnya. Mulailah dengan niat di dalam hati, bahwa apa pun curhatannya nanti, maka kita memberi wewenang penuh kepada logika untuk menyaring agar kita tak larut dalam emosi seirama dengan si pemilik curhatan. Beri juga batasan di dalam diri, sejauh apa kita boleh terbawa emosi, jangan sampai melampaui batas, karena kita butuh logika tetap waras/sehat, sehingga kita mampu mendengarkan dengan baik, dan syukur-syukur bisa memberikan solusi.

Kemudian, jika di dalam sesi curhatan itu kita mampu memberikan solusi, maka berikan solusinya dengan jelas dan mudah dipahami, namun jika tidak, janganlah memaksa diri. Karena sesungguhnya mereka hanya ingin menyalurkan uneg-unegnya agar plong dan enteng pikirannya.

Jadi jangan merasa bersalah jika tak mampu memberikan solusi. Jadilah pendengar yang baik, tak perlu menjadi pahlawan, apalagi pahlawan yang kesiangan. Hehe.

Nah, mudah-mudahan tulisan ringan kali ini bermanfaat, ya, mantemans! Ingat, sebelum menyediakan telinga untuk mendengarkan, buka hati dan pikiran dengan baik, jangan lupa, pasang filternya agar energi negatif tersaring dengan baik, okeh?

Al, Bandung, 25 Agustus 2018

One comment on “Hati-hati Mendengar Curhatan Orang, loh!

  1. Setuju mba, harus di filter dan jangan terlalu sering denger keluhan ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *