Daun Kering – Tentang Ketidakabadian

Hari ini, buka-buka galeri IG dan gambar ini seakan menohok hati. Aku ingat benar kapan saat mengabadikannya beberapa tahun lalu. Suatu masa di mana aku memang sedang suka banget mengabadikan daun-daun kering yang tergeletak di jalanan, melalui smartphone. Salah satunya ya ini.

Mungkin di mata sebagian orang, ini hanya daun kering biasa. Just a dried leaf! Namun, entah kenapa, aku menangkap nuansa pilu di dalam penampakannya. Ah, entahlah, mungkin aku saja yang lebay dan terlalu sensitif, atau jangan-jangan baperan? Apalagi, kala itu, situasi dan momen kehidupanku memang sedang tersudut secara finansial, lagi bangkrut akibat ratusan lot saham yang aku pegang anjlok. Miris dan menghempas! Entahlah. Bisa jadi kan hal itu mempengaruhi rasa hati yang langsung melo kala menatap daun kering yang terhampar tak berdaya itu?

Lalu bait-bait puisi tentang daun kering pun tercipta. Salah satunya seperti ini.

Hari ini, dalam suasana hati yang bahagia, kutemukan gambar ini, dan? Lagi-lagi aku menemukan kesedihan di sana. Ah, daun kering, engkau selalu mengingatkan aku akan ketidakabadian. Mengajarkan aku untuk selalu menyadari, bahwa semua yang kita miliki hanyalah pinjaman. Bahkan anggota tubuh, panca indera atau apa pun yang ada di tubuh kita saja, hanyalah pinjaman semata.Lalu, apa yang harus aku sombongkan?

Mata bukan punya kita, telinga juga bukan punya kita. Mulut bukan punya kita, bahkan paru-paru untuk bernapas pun hanyalah pinjaman. Lalu apa yang kita sombongkan? Bahkan pada sehelai daun pun, zat hijau daun dan kesegarannya pun hanya sementara. Ah, tiada yang abadi.

Ah, terkadang, menatap helaian daun kering, memberiku banyak sekali pembelajaran tentang hidup dan ketidakabadian.Thanks, daun kering. I learn a lot from you! Kalo kalian, suka sedih ga sih, jika lihat daun kering yang tergeletak lunglai tak berdaya?

Al, Bandung, 20 September 2018

37 comments on “Daun Kering – Tentang Ketidakabadian

  1. wah. dalem banget ya mbak.

    Anakku juga suka banget sama daun kering. Emang cantik dan punya arti yang indah ya mbak

  2. Saya tidak sampai ke situ membayangkan daun kering mbak. Tapi saya adalah salah satu yang selalu memperhatikan kucing di jalan. Pasti kuajak bicara, dan selalu iba kalau dia tidak dalam keadaan baik. Atau selalu iba ketika melihat orang tua di pinggir jalan dalam keadaan sakit maupun sehat. Seketika ingat orang tua.

  3. Kalau saya ga kepikiran sampai sana mbak kalau lihat daun kering. Saya tapi kalau di jalan lihat hewan apapun bakal saya sapa dan ajak bicara.
    Kadang ya iba kalau mereka kurus kering. Takut kalau hidupnya ga layak. Kasihan.

    Tapi biasanya saya juga sedih kalau lihat orang tua di jalan. Dalam keadaan sehat maupun sakit. Ingat orang tua atau kakek nenek.

  4. aku tiba-tiba mellow membaca puisi daun kering itu kak Al

  5. Aku juga suka sedih kak kalau lihat daun keeing tergeletak..beberapa kali pernah foto juga, memang penuh makna ya kak.

  6. Ihh mba Alaika bisa banget cari inspirasi. Dari daun kering aja bisa banget ya

  7. Sedih, perasaan pilu kadang lebih menginspirasi dibanding rasa bahagia. Yee kann heheh

  8. Aku mungkin aneh, mengumpulkan daun kering mapple dr luar pas musim gugur. Klo ada temen lagi ke salah satu negara 4 musim kebetulan sedang autumn, aku minta oleh-olehnya daun kering.

    Aku juga hobby motret daun kering di sini. Hehehe

    Thanks kak Al. I also learn a lot from you.

  9. Kalau melihat daun kering tergeletak, atau melihat daun jatuh. Selalu teringat Aa Gym.
    I don’t know why

  10. Puisi daun kering itu mengingatkan, bahwa kita, manusia, pun akan seperti daun-daun kering itu.. Hanya menunggu giliran saja

  11. Mbak Al, puisi daun kering dan gambar daun kering yang kedua dalem banget. Menancap ke hati. Pilu sekaligus merasa disadarkan akan keadaan yang sebenarnya enggak hanya bisa terjadi sama daun kering aja, melainkan sama manusia juga :(( Terima kasih mba Al, dari daun kering dan puisinya.

  12. Meremas daun kering saat kesal, aku tuh sukanya gitu. Emosi lebih tersalurkan haha

  13. Iya aku juga nggak bakal kepikiran begitu tentang daun kering :))) Tapi aku sering nemuin daun kering keselip di buku mba. Kayaknya masukinnya udah lamaaaaaa banget

  14. puitis sekali teteh, selalu suka baca baca quote manis penuh makna kaya gini

  15. Daun saja jatuh atas izin Tuhan ya mba, apalah kita manusia yang kadang serakah, congkak dan lupa bersyukur. Semoga kita senantiasa sehat dan bermanfaat bagi semesta raya

  16. Saya gak sedih, mba. Daun kering biasanya saya krekesin karena suka suaranya renyah. Heuheu.

  17. daun kering cocok banget jadi props foto ya Mba Al

  18. Saya waktu kecil suka ngumpulin daun kering terus disimpan di buku. Ga tau kenapa, suka aja liatnya.

  19. Kalau saya, ingat sebuah cerita dari guru mengaji. Jadi setiap ada daun kering, saat itu juga membaca solawat. Jadi menemukan 5 daun kering, minimal bacakan 5 kali shalawat Nabi.

  20. Teteh keren banget sih, daun kering aja bisa menjadi inspirasi.
    Terkadang hal kecil di sekitar kita dapat menjadi inspirasinya, teh.
    Terima kasih utk sharingnya, teh. Membuat ak belajar lebih memperhatikan hal kecil di sekitar

  21. Wah saya terpikir, tp seneng kalau liat pas daun lg berguguran, serasa di mana gt

  22. Jadi ingat dulu saya juga suka motoin daun-daun kering yang jatuh ke tanah. Kelihatannya keren kalau difoto. Heu

  23. Kalo alma sukanya ngumpulin daun trus disimpen dalam lipatan buku. Pas dibuka beberapa bulan kemudian jadinya makin cantik

  24. Aku pun termasuk orang yang suka dengan daun kering, tapi kasihan kalau pas lihat mereka berserakan di jalan. Sekarang suka ngumpulin malah untuk perlengkapan foto

  25. aku sendiri suka mungutin daun kering yang bentuknya masih utuh dan warnanya bagus.
    kadang buat mainan, kadang buat dipajang di rumah 😀

  26. Cantikkk fotonya say…
    Dan ternyata banyak interprestasi untuk daun kering ya?
    Buatku sih daun kering = humus yang menyuburkan bumi

  27. Kalau aku suka gemas ingin segera dimasukkan ke tempat sampah Mbak, hehe

  28. aku ga pernah merhatiin daun kering jd dpt insight baca ini mba Al 🙂 iya jg semuanya ga ada yg abadi yah

  29. Suka banget, mba Al…
    Kalau ada daun jatuh, lalu beterbangan menanti lunglai di atas tanah atau jalan, aku pasti langsung berpikir “Daun yang jatuh saja, atas izin Allah…apalagi yang terjadi padaku, Ya Allah…yang Maha Agung…”

    Langsung banyak-banyak istighfar…
    Ikhlas…
    Mengikhlaskan segalanya, meskipun kadang air mata pun turut menemani.

  30. Aku juga punya beberapa koleksi foto daun yang berguguran dan mengering. Nggak tau kenapa, mereka tampak cantik meski sudah luruh ke tanah. Dan iya, dari mereka kita belajar menghargai waktu.

  31. Dalem banget pemaknaannya, Mbak. Semua yg kita punya memang hanya titipan. Dan kita tinggal menunggu giliran layaknya daun kering itu.

  32. Hidup ini memang mirip kayak daun kering itu mbak, tidak abadi, dan semua kekuatan yang kita punya akan hilang suatu saat dan kita kembali ke alam, jadi tanah. Saya sudah sering mengingat masa tua sekarang 🙂

  33. Aku juga suka lihat daun kering terutama yang berguguran. Ada kesan sedih tapi lebih banyak romantisnya 🙂

  34. Filosofisnya dalam sekali itu, Kak Al. Jadi ikut Baper…

  35. Kok jadi sedih ya mba, teringat akan diri sendiri, orang tua.

    Saat ngaca, perlahan keriput mulai datang sedikit demi sedikit.

    Saat jarang bertemu ortu, tiba2 saja pas ketemu udah banyak perubahan hiks

    Kita semua akan menua, dan badan kita akan berakhir di dalam tanah

  36. Kok jadi mellow ya mba..
    Tapi itulah hidup ya penuh dengan ketidakpastian dan ketidakabadian..

  37. Daun kering adalah pelajaran buat kita untuk secara tidak langsung mengingat kematian, ya…
    Semoga meski “kering” kita bisa tetap bermanfaat buat yang lain. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *